Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pro Resistensi Bukan Pro Terorisme

Oleh: DR Muhsin Labib

Rezim kolonial zionis “Israel” kini berada di ujung tanduk. Mayoritas warga planet bumi mengepungnya dengan kecaman hingga makian online dan offline. Pelbagai aksi demo meletup di seantero dunia. Ancaman terbesar yang kini dihadapi rezim zionis yang menguasai “negara fiktif Israel” itu pun ditanggapi secara culas; “menggerakkan semua sel dan jejaring kriminalnya di dunia, terutama di dunia Islam dan kawasan berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Kawanan itu diinstruksikan untuk menghalalkan segala cara demi meredam amarah dunia yang jika didiamkan akan segera merubuhkan negara palsu yang sebenarnya kamp teroris itu. Modusnya dengan menabur opini sampah dan post truth yang dicitrakan sebagai fakta. Sumbernya, ya narasi zionis dan media-media pro zionis.

Salah satu opini sesat yang ditebar luas adalah mengidentikkan kelompok perlawanan anti zionis dan kontra okupasi dengan gerombolan ekstremis sadis yang justru pabrikan AS dan para sekutunya, termasuk Arab Saudi dan rezim ilegal zionis “Israel”.

Baca: Lima Pertanyaan Penting Seputar Palestina

Kelompok perlawanan anti zionis seperti Hezbollah, Hamas dan Jihad Islam bersama sejumlah sayap militernya (termasuk tentara reguler Suriah yang mendukung kelompok perlawanan anti zionis) tentu berbeda bahkan vis-a-vis dengan kawanan teroris Daesh (ISIS), Taliban, Alqaeda, Boko Haram, dan semacamnya.

Dari aspek objek atau target, kelompok perlawanan hanya menyasar rezim kolonial zionis “Israel”, terutama penggede, serdadu, dan pemukim ilegal zionis. Sebaliknya, kawanan teroris yang menyalahgunakan “jihad” mengincar warga sipil Muslim dan non Muslim. Di Suriah, misalnya, kawanan teroris Alqaeda dan ISIS menyerang dan membunuh siapapun, entah itu tentara, warga sipil, atau bahkan anak-anak dan kaum perempuan.

Dari aspek medan operasi, kelompok perlawanan anti zionis “Israel” hanya melakukan aksi militer di wilayah pendudukan Palestina (kawasan yang dijajah rezim zionis “Israel” dengan menembakkan roket, infiltrasi, dan sebagainya.) Sebaliknya, gerombolan teroris pabrikan rezim arogan Amerika Serikat cs melancarkan teror melalui aksi brutal, serangan sporadis, bom mobil, peledakan masjid dan fasilitas publik, penculikan dan penyiksaan serta pembantaian melalui mutilasi, misalnya.

Baca: Di Balik Kisah 70 Tahun Tragedi Nakba Palestina

Dari aspek tujuan aksi, kelompok perlawanan bertujuan mengakhiri penjajahan, perampasan, progrom, penindasan serta pengucilan yang dipraktikan rezim zionis sejak 73 tahun silam. Sebaliknya, gerombolan teroris berpaham wahhabi atau salafi mengaku bertujuan mendirikan khilafah secara paksa meski pada faktanya hanya menjalankan agenda AS menghancurkan blok resistensi anti zionis “Israel” (seperti Iran, Suriah, Lebanon dengan Hezbollah, Irak dengan Hashd Sha’bi, dan Yaman dengan Ansarullah).

Dari aspek ideologi, kelompok perlawanan anti zionis tidak menjadikan perbedaan keyakinan dan ras sebagai dasar pandangan dan sikap. Karena itulah, Hezbollah dalam politik domestik Lebanon berkoalisi dengan faksi maronit Kristen dan mengusung Jenderal Michele Aun sebagai presiden. Iran sendiri sebagai Republik Islam yang secara konstitusional dan politik menolak sepenuhnya eksitensi rezim palsu zionis “Israel” justru melindungi hak sipil dan politik warga Yahudi.

Memang, semula Hamas berhaluan ikhwani dan dipengaruhi doktrin salafi-wahhabi. Namun kelompok perlawanan Palestina itu telah mengambil banyak pelajaran dari pengalaman. Termasuk pengkhianatan rezim-rezim Arab, terutama Saudi dan UEA dan memperoleh dukungan finansial dan arsenal dari Iran yang notabene non Arab dan penduduknya bermazhab Syiah yang disesatkan Salafisme dan Wahabisme. Kini Hamas telah bertransformasi secara gerakan dan lebih moderat dalam pandangan teologi dan ideologinya.

Baca: Solidaritas Palestina dan Tafsir Ayat Persaudaraan

Tak bisa dipungkiri, kelompok-kelompok Muslim garis keras di Indonesia, yang umumnya membenci Pemerintah, juga berusaha menampilkan dirinya peduli pada tragedi kemanusiaan di Palestina, kendati lebih terlihat jelas bahwa jatuhnya Suriah ke tangan teroris bayaran AS cs bagi mereka lebih penting dan diimpikan.

Namun tidak logis dan tidak fair bila mendukung resistensi dan konfrontasi militer vis-a-vis Israel dianggap pro ekstremisme hanya karena kawanan ekstremis juga ikut-ikutan mendukungnya.


No comments

LEAVE A COMMENT