Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Sayyid Ali Khamenei: Sabar Menghadapi Peristiwa-peristiwa yang Tidak Menyenangkan

Kehidupan manusia selalu disertai dengan peristiwa-peristiwa dan bencana-bencana yang tidak menyenangkan, dan tak ada jalan keluar dari peristiwa-peristiwa demikian. Struktur manusia sudah diciptakan sedemikian rupa sehingga ia harus berhubungan dengan situasi-situasi yang dipaksakan ini, yaitu selalu menemui peristiwa-peristiwa dan bencana-bencana yang tidak menyenangkan selama keseluruhan rentang waktu kehidupannya.

Amirul Mukminin Imam Ali a.s. melukiskan dunia ibarat sebuah rumah yang dikelilingi dengan berbagai godaan dan bencana. Penyakit, cacat-cacat fisik, kerugian-kerugian finansial, kematian orang-orang yang dicintai, dan kehilangan-kehilangan (posisi, dan sebagainya) merupakan sebagian contoh dari peristiwa-peristiwa yang tak terelakkan yang tak ada jalan keluarnya. Bahkan kelompok manusia yang paling sukses juga tidak kebal terhadap berbagai tipe kejadian ini. Ketika bencana-bencana demikian menimpa dalam kehidupan, yang sudah tentu di luar keinginan, umumnya terdapat dua jenis reaksi yang diperlihatkan oleh manusia.

1) Sebagian orang, karena bencana itu, menghentikan perlawanan mereka sepenuhnya dan oleh karenanya menjadi cacat secara spiritual.

2) Kelompok manusia yang lain, berlaku sabar dengan menganggapnya sebagai hal alamiah dari kehidupan dunia ini, dan mampu menghadapinya secara utuh dengan menunjukkan kualitasnya. Menurut Roudaki, penyair Persia terkenal, jasa, kebesaran, dan kepemimpinan seorang manusia teruji selama ia tertimpa bencana. Kedukaan, tangisan, dan ratapan sebenarnya merupakan hawa nafsu alamiah yang kuat, yang membebankan kekuatan emosional jahat terhadap struktur manusia, seluruh bagian tubuh digerakkan untuk melakukan fungsi khusus. Mata mencucurkan air mata, lidah mengaduh, tenggorokan mengerang, sedangkan tangan, kaki, dan kepala semuanya terlibat dalam melakukan perbuatan-perbuatan dan gerakan-gerakan khusus.

Baca: Manusia Diciptakan untuk Melewati Ujian Derita dan Musibah

Kesabaran dalam menghadapi bencana-bencana berarti tidak menyerah pada ledakan-ledakan emosional jahat ini. Seorang manusia yang sabar, sewaktu menghadapi tragedi-tragedi demikian, tidak menghentikan semangat juangnya dan akan mempertahankan kesabaran dan kendalinya. Tragedi-tragedi ini tidak membuatnya menjadi lemah semangat dan kecil hati, serta tidak menghentikannya dalam melakukan upaya-upaya dan usaha-usaha keras untuk meraih cita-cita utama dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, jenis kesabaran ini (kesabaran dalam menghadapi bencana) juga penting.

Kini, marilah kita memperhatikan kasus seorang musafir yang memulai perjalanannya ke arah tertentu sehingga ia dapat mencapai tujuan akhir yang diinginkan. Jika ketika ia menemui kejadian yang tidak menyenangkan, dan setelah mendapat luka kecil, ia menghentikan semangat juangnya dan mengendurkan kesabarannya, maka jelas bahwa orang seperti itu tidak akan pernah menyelesaikan perjalanan ini dan tidak akan pernah mencapai wilayah tujuan akhir, karena perlawanan yang diberikan terhadap motif-motif depresi sewaktu menghadapi tragedi-tragedi merupakan faktor kunci, yang tidak hanya menjamin semangat juang tinggi. Lebih dari itu, kesabaran ini sebenarnya merupakan suatu latihan yang bermanfaat dalam rangka membangun tekad dan kemauan baja di antara umat manusia yang merupakan pra­syarat bagi kelanjutan perjalanan sulit.

Kesabaran dalam menghadapi tragedi-tragedi alamiah yang menimpa manusia tanpa pandang bulu, memiliki dua keuntungan penting berikut:

1) Kesabaran menjamin dan mempertahankan semangat juang tinggi yang bertanggung jawab bagi seluruh keterlibatan konstruktif, dan selanjutnya bertindak sebagai penghalang untuk mencegahnya merasa kehilangan atau hancur total.

2) Kesabaran membangun tekad atau kekuatan kemauan manusia yang merupakan sarana penting bagi seluruh perbuatan positif, dan selanjutnya membekalinya dengan kesabaran yang dibutuhkan untuk menghadapi tragedi-tragedi besar.

Pada dua riwayat berikut, filsafat mendalam menyangkut cabang kesabaran ini dapat secara jelas ditunjukkan.

“Siapa pun yang tidak melengkapi dirinya dengan senjata kesabaran selama tertimpa kesulitan-kesulitan dan bencana-bencana zaman, akan ditundukkan menerima kondisi kelemahan dan ketidakberdayaan.” (AI-Kafi, 2/93)

“Bagi seorang beriman, jika suatu posisi dan kedudukan, telah dipertimbangkan oleh Allah, tak dapat diraih melalui perbuatan-perbuatan (amalan-amalan) semata, ia ditimpakan penyakit, atau kehilangan harta, atau tragedi-tragedi yang menimpa orang-orang yang dicintainya, dan jika seandainya ia tetap sabar, maka ia diberikan ganjaran oleh Allah (berupa pemberian posisi dan kedudukan mulia).” (Safinatul Bihar, 2/5)

Pada riwayat di atas, peranan kesabaran yang konstruktif dan agung telah ditunjukkan secara jelas. Utsman bin Mazh’un, yang merupakan seorang Muslim berpengalaman dan telah melakukan hijrah ke Ethiopia (Habsyah) dan Madinah selama periode awal Islam, kehilangan seorang putranya yang masih muda di Madinah. Tragedi ini begitu berat hingga ia memutuskan untuk menghabiskan seluruh sisa kehidupannya di dalam rumah dengan menjalankan salat demi salat (ibadah ritual total) dan ia serentak menghentikan sepenuhnya seluruh keterlibatan sosialnya. Depresinya, setelah kematian putranya, begitu hebat hingga ia tak pernah ingin merasakan berbagai kesenangan hidup lagi. Rasulullah Saw, setelah mendengar tentang kondisinya, mengadakan kunjungan kehormatan kepadanya dan menasihatinya untuk mengubah keputusannya.

Baca: Doa Imam Ali Kala Tertimpa Musibah

Rasulullah Saw mengatakan bahwa Islam tidak membolehkan umatnya untuk menjalani kehidupan monastik (menolak dunia/menjalani ibadah ritual total), duduk di sudut tempat yang terisolasi, hanya sibuk melakukan salat demi salat. Penolakan dunia oleh umat Islam harus diartikan sebagai bentuk partisipasi dalam jihad di jalan Allah. Oleh sebab itu, kesabaran menghadapi tragedi-tragedi yang dalam tak terduga, di mana kita mampu menghindar, bermakna bahwa kita harus mampu berlaku sabar menahan kepedihan luka yang disebabkan oleh bencana tanpa harus menghentikan semangat juang dan tak harus mampu melanjutkan keterlibatan rutin yang normal menyangkut kehidupan nyata, serta pada akhirnya mampu melupakan tragedi yang menimpanya dengan berlalunya waktu.

*Dikutip dari buku Menghiasi Iman dengan Kesabaran – Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei

No comments

LEAVE A COMMENT