Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kadar Kemuliaan Manusia dalam Sistem Nilai Islam  

Kultur masa kini dan para humanis mengklaim bahwa setiap orang, karena ia manusia, mempunyai nilai alami dan dalam kata lain, kemuliaan, sekalipun misalnya ia telah melakukan banyak pembunuhan dan kejahatan. Namun, Islam memandang dua jenis kemuliaan manusia. Yang pertama ialah kemuliaan umum, yang berarti bahwa setiap manusia, karena ia manusia -tanpa peduli akan perilaku dan sikapnya- memiliki kemuliaan itu. Ini kemuliaan ciptaan dan nilai yang dikaruniakan Allah Yang Mahakuasa kepada manusia, yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk lain. Boleh jadi poros dari karunia Tuhan ini adalah akal manusia. Dalam beberapa ayat Alquran, kemuliaan ciptaan ini telah ditunjukkan.

“Dan sungguh telah Kami muliakan keturunan Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. al-Isra: 70)

Pada ayat di atas dinyatakan bahwa Allah Yang Mahakuasa telah menganugerahkan suatu kemuliaan kepada anak-anak Adam dan mengutamakan mereka atas kebanyakan makhluk-Nya. Pemberian kemuliaan ini meliputi seluruh manusia, lelaki maupun wanita, kecil maupun besar. Allah memberikan kepada mereka tubuh yang tegak dan indah, mata, telinga, dan organ-organ serta bagian-bagian tubuh lainnya, juga pikiran, akal, kecerdasan, bakat, dan ciri khas rohani dan jasmani. Tetapi, apabila kita renungkan, akan kita lihat bahwa kemuliaan dan nilai ini sesungguhnya milik Allah. Dia menganugerahkan nikmat-nikmat itu kepada manusia secara cuma-cuma, sedang manusia sendiri tidak berperan dalam mendapatkannya.

Baca: Kemuliaan Ajaran Islam dalam Memperlakukan Tetangga

Jenis kemuliaan yang kedua ialah yang dicapai dan dijangkau manusia sendiri dengan kehendak dan pilihan bebasnya. Dalam kemuliaan jenis ini, manusia tidak seluruhnya sama; hal itu hanya dinikmati oleh orang-orang berkebajikan. Apabila orang berbuat tidak bajik maka bukan hanya ia tidak akan mendapatkan kemuliaan ini melainkan akan mendapatkan anti-nilai dan jatuh sedemikian rupa sehingga mereka akan menjadi lebih rendah dari hewan. Tentang kelompok manusia jenis ini, yang tidak mendapatkan kemuliaan bagi dirinya, Alquran berkata:

“… Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al-A’raaf: 179)

Dari itu, kemuliaan ciptaan tidaklah cukup bagi manusia untuk diakui sebagai makhluk yang mulia dan terhormat untuk selamanya, karena ia mungkin kehilangan karunia kemuliaan itu dan mendapatkan anti-mulia, yakni kenistaan dan kerendahan. Ungkapan Alquran dalam hal ini ialah:

“Sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada yang serendah-rendahnya.” (QS. at-Tin: 4-5)

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik dan paling mengagumkan, dan memberikan kemuliaan ciptaan-Nya secara yang terbaik. Tetapi, sebagian manusia tidak mau menerima kemuliaan Ilahi ini dan merendahkan dirinya hingga tingkat yang paling rendah. Oleh karena itu, walaupun semua manusia secara umum mempunyai kemuliaan ciptaan, namun pada tahap pilihan bebas, tidak semuanya sama; mereka akan mendapatkan berbagai derajat nilai dan kemuliaan sebanding dengan perbedaan derajat kebajikannya. Bahkan, bisa jadi sebagian orang merosot sedemikian rupa sehingga tak ada kemuliaan yang dapat dipandang padanya, dan mereka harus dicampakkan dari masyarakat seperti kelenjar kanker.

Perilaku manusia yang secara umum merupakan poros utama bahasan kita di sini. Para filosof hukum, filosof etika, dan berbagai pakar kemanusiaan telah mengerahkan pemikirannya

dalam hal ini. Namun, selama puluhan abad mereka membahas masalah ini, pikiran mereka belum juga mencapai hasil yang benar dan menentukan. Suatu pengantar singkat akan membuka jalan ke arah bahasan ini, dengan memberikan perhatian pada apa yang menolong kita untuk mencapai maksud itu.

Pada dasarnya, setiap perbuatan bebas yang dilakukan oleh pelaku yang bebas adalah untuk mencapai hasil yang didapat dari perbuatan itu, dan sangat jarang ada tindakan yang dilakukan tanpa ada tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, setiap tindakan adalah suatu sarana untuk suatu tujuan, dan tak ada tindakan yang, secara alami, dilakukan demi tindakan itu sendiri. Nilai setiap tindakan dan keinginan terhadapnya tunduk pula pada hasil yang diperoleh dari tindakan itu. Orang yang berniat melakukan perjalanan, mengambil serangkaian tindakan, misalnya membeli tiket kendaraan, mempersiapkan perlengkapan dan bekal untuk perjalanan, dan bersiap untuk naik bus atau pesawat terbang. Dengan memenuhi tindakan pendahuluan ini, tentulah ia bermaksud untuk mencapai maksud, yakni tujuan perjalanan yang dikehendakinya, dan tidak sekadar melaksanakan tindakan-tindakan itu saja.

Di sini ada satu butir yang sangat halus, di mana banyak orang yang terlibat dalam pembahasan dan penalaran tentang ini keliru memahaminya. Yaitu, kadang-kadang beberapa hasil diperoleh seseorang dari tindakan yang tidak diketahuinya atau tidak diperhatikannya, atau yang untuk itu ia tidak melakukan suatu tindakan. Misalnya, seseorang berangkat dari rumah untuk mengunjungi sahabatnya atau ke sekolah atau untuk melakukan suatu tindakan lain. Dalam perjalanan, ia mendapatkan pula hasil-hasil lain yang sebelumnya tidak dipertimbangkannya dan tidak pula dimaksudkannya. Tak dapatlah dikatakan bahwa ia telah melakukan tindakan untuk mencapai hasil (yang tidak dimaksudkannya) itu. Jadi, nilai tindakan bebas manusia tunduk pada hasil yang dimaksudkannya sejak awal dan yang telah ditentukannya sebagai tujuannya.

Baca: Kesempurnaan Islam sebagai Mazhab Ideologi

Contoh lain akan lebih menjelaskan hal ini. Seseorang membangun sebuah rumah sakit untuk pamer agar orang memujinya. Tujuannya dalam mengeluarkan uang dan waktu adalah semata-mata untuk mendapatkan kemasyhuran dan popularitas dan kalangan manusia. Ketika rumah sakit itu telah dibangun, ribuan orang, termasuk para mujahid dan pejuang Islam di jalan Allah, dirawat di rumah sakit itu. Apakah orang itu mendapatkan pahala dari tindakannya itu? Jelas tidak. Karena, tujuannya bukanlah untuk mewujudkan hasil-hasil itu; hanya cinta akan kemasyhuran yang mendorongnya untuk melaksanakan tindakan itu.

Sebaliknya, apabila seseorang membangun sebuah rumah sakit dengan niat agar para hamba Allah dan orang-orang cedera dan tertindas di masyarakat menggunakannya, tetapi kebetulan sebuah bom menimpa dan menghancurkannya sehingga rumah sakit itu tidak membawa suatu hasil, amal tindakannya sama sekali tidak akan kehilangan nilai, karena sesungguhnya ia telah membangunnya demi tujuan yang sangat mulia. Tentu saja, apabila rumah sakit itu tetap selamat dan tujuan pembangunannya juga terpenuhi, ia akan mendapat pahala yang lebih besar.

*Disadur dari buku Monoteisme – Ayatullah Taqi Misbah Yazdi

No comments

LEAVE A COMMENT