Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Skeptisisme terhadap Keyakinan pada Imam Mahdi

Pengetahuan riwâ`i (berdasarkan dalil-dalil riwayat) adanya duabelas pemimpin umat sepeninggal Nabi Terakhir saw, dimiliki oleh muslimin, yang Ahlussunnah maupun yang Syiah. Dengan berbagai ungkapan seperti khulafa` (para khalifah), a`immah (para imam), aushiyâ` (para washi Nabi saw) dan lainnya. Lalu dinyatakan bahwa mereka itu dari bangsa Quraisy atau dari bani Hasyim. Juga dijelaskan bahwa sembilan dari mereka adalah anak keturunan Imam Husein as. Bahkan disebutkan secara rinci nama-nama mereka satu persatu.

Pengetahuan tersebut membuahkan keyakinan, termasuk keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi as di akhir zaman. Keyakinan ini sebagaimana yang ditegaskan oleh banyak ulama Ahlussunnah, adalah yang disepakati muslimin. Atas demikian, sampai sebagian mereka mengkafirkan orang yang mengingkari kemunculan Imam Mahdi. Bahkan sebagian faqih Ahlussunnah memfatwakan wajib hukuman mati bagi si pengingkari Imam Mahdi, dan sebagian lainnya berpendapat harus diberi sangsi dan hukuman supaya kembali kepada kebenaran.

Baca: “Kebenaran Sang Nabi Penutup saw

Hal tersebut dikutip oleh penulis Mahdawiyat dar Sahhah-e Sittah (Masalah atau keyakinan tentang Imam Mahdi dalam enam kitab sumber Ahlussunnah), dari sumber-sumber antara lain: Yanabi al-Mawaddah, hal 447; Burhan fi Alamat Mahdiy Akhir az-Zaman, hal 178; Majallah at-Tamaddun al-Islami, no 2, hal 643; al-Qaul al-Mukhtashar fi Alamat Mahdiy al-Muntazhar, hal 26.

Skeptisisme Terhadap Kemahdian

Kendati dikatakan oleh banyak ulama bahwa kepercayaan akan Imam Mahdi disepakati oleh muslimin dengan penekanan-penekanan yang signifikan, terdapat sejumlah penulis muslim yang membuat keraguan akan keyakinan ini. Hal ini bukan tidak dipengaruhi oleh pemikiran orang-orang asing yang tiada lain mereka adalah kaum orientalis.

Gerlof van Vloten (1866-1903), orientalis asal Belanda, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab- as-Siyadah al-Arabiyah (Kepemimpinan ala Arab), mengatakan bahwa perkara Imam Mahdi muncul akibat tekanan-tekanan politis. Menurutnya, para rezim kala itu menindas kaum Syiah. Lalu diajarkan atau diciptakanlah pemikiran kemahdian untuk bisa terlepas dari kezaliman dan penindasan penguasa.

Baca: “Nilai-nilai Keagamaan

Di dalam buku tersebut, halaman 132, ia mengatakan: Penindasan para rezim Abbasiyah tak lebih ringan dari para rezim Umayyah, yang sampai batas kaum lemah dan yang tertindas bersandar pada sesuatu yang menghibur diri (atau meringankan beban derita) mereka. Mereka tidak mendapati solusi selain berpegangan pada keyakinan akan Imam Mahdi dan penantian akan kemunculannya, demi mengurangi beban-beban penderitaan jiwa mereka.

Ignoc Goldziher (1850-1921), orientialis lainnya asal Hungaria, dalam al-Aqidah wa asy-Syariah fi al-Islam, mengungkapkan: Keyakinan pada Mahdi itu termasuk legenda dan fiktif.

Apa yang dilakukan oleh kaum orientalis itu adalah usaha untuk menggoyang akidah muslimin. Mereka dengan berbagai cara untuk dapat meragukan-ragukan apa yang telah diyakini orang-orang Islam. Hal ini disadari oleh banyak orang. Namun demikian, bukan tidak mungkin tapi kenyataannya terdapat sejumlah pemikir muslim yang berada di bawah pengaruh pemikiran mereka.

Tonton: “Kartun Anak: Dialog Imam Al-Jawad a.s dengan Yahya bin Aktsam di Hadapan Al-Makmun

Seorang dosen Universitas al-Azhar, Sad Muhammad Hasan, mengatakan: Syiah adalah kelompok terklasik Islam yang meyakini teori kemahdian. (al-Mahdawiyah fi al-Islam, hal 48)

Abdurrahman Badawi pun menyatakan: Orang yang menyebarkan keyakinan akan al-Mahdi al-Muntazhar, adalah Kaab al-Ahbar. (Madzahib al-Islamiyin 2/77)

Artinya bahwa pemikiran dan keyakinan tentang adanya atau kemunculan Imam Mahdi sebagai penyelamat umat, reformer akhir zaman dan sebagainya, menurut mereka -yang terbawa oleh arus orientalisme ini- adalah teori yang diciptakan oleh Syiah, atau kemudian dipublikasikan oleh seorang perawi hadis bernama Kaab al-Ahbar, dan atau klaim-klaim lainnya.

Tak Perlu dari Kaab Al-Ahbar

Terlintas di benak penulis pertanyaan bahwa apakah karena Kaab yang menyebarkan sehingga Badawi sepertinya meragukan keyakinan ini? Saya mencoba untuk menjawabnya sendiri, bahwa saya kira bukan Kaab penyebabnya, melainkan adalah dampak dari pemikiran orientalis yang meragu-ragukan keyakinan tentang Imam Mahdi.

Jika sebaliknya, Badawi harus berhadapan dengan banyak perawi atau ahli hadis yang menukil dari Kaab al-Ahbar! Walau demikian, mengenai siapa Kaab al-Ahbar perlu dikaji. Bahwa secara ringkas ia seorang tokoh Ahlulkitab, yang masuk Islam di awal kekhalifahan Umar bin Khatab. Di Madinah, ia bergaul dengan para sahabat Nabi saw dan membawakan hadis-hadis israiliyat. Mulanya ia dipercaya, kemudian didustakan. Pada masa kekhalifahan Usman bin Affan, Kaab pergi Syam, dan pada masa pemerintahan Muawiyah ia direkomendasikan olehnya menjelaskan Syariat Islam.

Tonton: “VIDEO – Imam Ali as-Sajjad as. dan Seekor Unta Lemah

Alhasil, jika karena Kaab yang menyebarkan keyakinan tentang Imam Mahdi, sehingga dia ragu dengan keyakinan ini, dengan alasan sejarahnya tersebut yang perlu dikaji lebih banyak lagi, saya katakan dia bukan satu-satunya yang menyebarkan keyakinan ini.

Dengan kata lain, seandainya dia tidak menyebarkannya atau tanpa dia pun, keyakinan tentang Imam Mahdi pasti hadir di dunia Islam. Banyak sekali perawi lainnya yang terpecaya yang meriwayatkan hadis-hadis terkait dari para sahabat besar Nabi saw dan dari para imam Ahlulbait as, yang mereka menyebarkan keyakinan yang disepakati muslimin ini.

Tonton: “VIDEO – Akankah Imam Husein as. Membaiat Yazid?

No comments

LEAVE A COMMENT