Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tidak Ada Ketenangan Kecuali dengan Iman

Terdapat berbagai perbedaan pandangan filosof dan pemikir tentang kebahagiaan dan cara mencapainya. Perbedaan itu masih ada hingga hari ini. Mazhab-mazhab pemikiran pun mengemukakan tesisnya untuk membahagiakan manusia. Kaum kapitalis mengajukan tesis bahwa manusia harus dibiarkan hidup secara liberal, dengan dugaan bahwa dengan cara itu manusia dapat hidup bahagia di dunia ini. Padahal tesis semacam itu justru malah menciptakan neraka yang apinya menggilas jutaan anak manusia di dunia ini. Marxisme mengecam habis paham kapitalis. Ia menciptakan dunia baru dan mengatakannya sebagai surga yang diharamkan di muka bumi ini. Tidak lama kemudian, masyarakat Marxis hidup bagaikan di sebuah penjara besar yang anak-anaknya ingin melepaskan diri darinya menghirup hawa segar di luar, dengan penuh kebebasan.

Dalam perjalanan sejarah manusia, telah muncul pelbagai tesis untuk membahagiakan manusia, tetapi semuanya tidak berhasil dan sia-sia. Sebabnya adalah karena sesungguhnya tesis-tesis tersebut keluar dari otak manusia yang pandangannya hanya terbatas pada dimensi tertentu dari kehidupan manusia, dan tidak mampu melihat pada dimensi-dimensi yang lain. Karena itulah, masyarakat manusia yang berjalan pada bukan jalan Allah pasti akan hidup dalam kesengsaraan. Begitu indah ungkapan Alquran dalam hal ini Allah Swt berfirman:

Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah  berfirman: ‘Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’ Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha: 123-127)

Baca: Tolok Ukur Keimanan dan Keikhlasan

Hadis-hadis mengungkapkan bentuk-bentuk realitas kehidupan di atas dalam berbagai gaya. Hadis-hadis itu menyebutkan bahwa salah satu akibat dosa yang dilakukan seseorang ialah bahwa dia selalu diliputi oleh ketakutan yang berkepanjangan, kegelisahan yang panjang, serta kesusahan yang tak kunjung henti.

Dari Amirul Mukminin a.s. dituturkan bahwa beliau mengatakan: “Tidak ada rasa sakit yang lebih dahsyat ketimbang rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh dosa.” (Ushul al-Kafi, 3/377)

“… Betapa banyak syahwat yang nikmat sesaat tetapi meninggalkan duka yang panjang.”

“Siapa pun yang tidak memalingkan dirinya dari syahwat, maka dia akan tenggelam dalam penyesalan yang panjang.” (Tuhaful ‘Uqul, hal. 168)

Dari Imam Abu Abdillah ash-Shadiq a.s. dituturkan bahwa beliau mengatakan: “Sungguh ada salah seorang di antara kamu yang sangat takut dengan penguasa, ketakutan itu tidaklah timbul kecuali dari dosa yang telah dilakukan. Oleh karena itu jagalah dirimu dari dosa-dosa itu semampu kamu dan jangan terlena dalam doa tersebut.” (Ushul al-Kafi, 3/377)

Nash-nash Islam menyebutkan tentang keterkaitan antara ketenangan jiwa dan keimanan. Kedua hal itu tak dapat dipisahkan.

Allah Swt berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28)

Ungkapan “hati mereka menjadi tenteram” dalam ayat di atas menurut para ahli tafsir adalah sifat atas ungkapan “orang-orang yang beriman”. Sehingga pengertiannya mengandung keterkaitan antara keduanya, yakni iman dan ketenangan hati.

Allah Swt berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS Yunus: 62)

Dari Ibn Abbas diriwayatkan bahwasanya Imam Ali a.s. pernah ditanya tentang wali-wali Allah yang disebutkan dalam ayat tersebut. Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah, mereka melihat batin dunia ketika orang-orang melihat lahirnya. Mereka melihat akibat yang akan diterimanya nanti ketika orang-orang selain mereka hanya melihat bentuknya yang sekarang. Mereka meninggalkan dunia yang mereka ketahui bahwa dunia itu akan meninggalkan mereka. Mereka mematikan dunia karena mereka mengetahui bahwa dunia akan mematikan mereka.”

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita.” (QS al-Ahqaaf: 13)

Kenyataan seperti ini pasti dijumpai oleh orang mukmin yang berjalan pada jalur risalah Ilahiah penuh ketegaran dengan jiwa yang tenang, dan seimbang ketika menghadapi berbagai kesulitan dan ujian. Alquran Karim pun mengisahkan kepada kita posisi para nabi yang mulia dan ketegaran mereka. Ibrahim, nabi kita yang mulia, menghadapi thaghut ketika dia meneriakkan: “…Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS al-Anbiya: 68)

Ibrahim menghadapinya dengan penuh ketabahan dan ketegaran. Beliau menghadapi api dengan hati yang tenang tanpa kegusaran. Alangkah nikmatnya Ibrahim yang memutuskan hubungannya selain Allah Swt. Dia melihat dirinya tidak memerlukan siapa pun kecuali Allah Swt, dia merasa bahwa apa yang dia alami adalah diketahui oleh Allah Swt.

Begitulah gambaran yang diberikan oleh Alquran kepada kita tentang kehidupan para nabi Allah, yang hidup dalam ketenangan, di mana ketenangan itu seharusnya bersemayam pada jiwa kaum muslimin dalam segala urusan Allah Swt.

Sejarah dan perjalanan umat manusia memberitahukan kepada kita tentang keagungan iman dalam jiwa kaum muslimin, dan kodrat yang diberikan kepada agama yang mulia ini untuk dipersembahkan kepada para pengikutnya. Semua itu menjadikan mereka seperti gunung terpancang yang tak mampu diterjang oleh badai apa pun. Atas dasar itu, dapat dikatakan bahwa perasaan (dhamir) manusia dapat terguncang dan diliputi kegelisahan manakala dia berbuat dosa. Dan inilah yang disebutkan oleh Alquran sebagai an-nafs al-lawwamah, di mana Allah Swt berfirman: “Aku bersumpah dengan hari Kiamat. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS al-Qiyamah: 1-2)

Jiwa yang menyesali dirinya sendiri (al-nafs al-lawwamah) ada dalam setiap diri manusia dengan tingkat kepekaan yang berbeda-beda. Kadang-kadang tidak kelihatan ketika manusia tenggelam dalam kemaksiatan, tetapi karena perbuatannya tidak pernah berhenti, maka tidak pernah mau muncul sehingga mematikan mereka dan menghilangkan rasa ketenangan dalam jiwa mereka.

Baca: Makna Iman, Kekafiran, dan Keraguan Menurut Imam Ali a.s.

Untuk hal seperti ini, banyak sekali contohnya dalam sejarah kehidupan kita di zaman modern ini, yang merupakan refleksi dari peradaban, pikiran, dan ilmu pengetahuan, sehingga banyak sekali riwayat dan sandiwara yang ditulis mengenai hal itu.

Diriwayatkan dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. tentang dosa-dosa yang menyebabkan kegelisahan perasaan manusia yang membangkitkan rasa penyesalan, di mana dia mengatakan: “Dosa yang mewariskan penyesalan ialah: membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya. Allah Swt berfirman, ‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah’, dan Allah berfirman dalam kisah Qabil yang membunuh saudaranya, Habil, lalu diilhamkan kepadanya untuk mengebumikannya, Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah dia salah seorang yang merugi; meninggalkan silaturahmi kepada sanak kerabat sampai mereka merasa tidak perlu kepadanya, meninggalkan salat sampai ia habis waktunya, meninggalkan wasiat dan membantu kezaliman, serta enggan mengeluarkan zakat sampai datangnya kematian di mana lidah telah tidak mampu mengucapkan apa­apa lagi.” (Ma’ami al-Akhbar, hal. 270)

*Disarikan dari buku Akibat Dosa – Sayyid Hasyim Rasuli aI-Mahallati

No comments

LEAVE A COMMENT