Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tragedi Karbala, Ketentraman Jiwa di Tengah Badai (2)

Imam Husain as sedemikian tenang menghadapi ancaman maut di padang Karbala sehingga beliau merindukan mati syahid bahkan seperti kerinduan Nabi Ya’qub as kepada putera kecilnya yang hilang, Yusuf as. Beliau menyatakan rindu dan ingin segera bergabung dengan para leluhurnya di alam baka. Beliau berucap;

و ما اولهنی الی اسلافی اشتیاق یعقوب بیوسف.

“Dan betapa aku mabuk rindu kepada para pendahuluku seperti kerinduan Ya’qub kepada Yusuf.”[1]

Beliau memandang kematian di jalan Allah sebagai kebanggaan dan keberuntungan, sehingga berucap;

لا اری الموت الا سعادة.

“Aku tidak memandang kematian ini kecuali sebagai kebahagiaan.”[2]

Kerindungan ini beliau ungkapkan ketika beliau mengucapkan salam perpisahan dengan para sahabatnya, dan merekapun lantas menjawab, “Salam atasmu, kami ada belakangmu.”[3]

Beliau kemudian membacakan firman Allah SWT;

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) (QS. Al-Ahzab [33]: 23).”

(Baca sebelumnya: Tragedi Karbala, Ketentraman Jiwa di Tengah Prahara – 1)

Ketika berhadapan dengan komandan sekelompok pasukan musuh yang akhirnya bertaubat, Hurr al-Riyahi, beliau berkata lantang;

افبالموت تخوفنی؟ سامضی و ما بالموت عار علی الفتی اذا ما نوی حقا وجاهد مسلما.

“Apakah kamu hendak menakuti-nakuti aku dengan kematian? Aku tetap melanjutkan jalanku. Kematian bukanlah aib bagi seorang ksatria, selagi niatnya adalah kebenaran dan berjihad sebagai Muslim.”[4]

Mengenai kondisi beliau setelah orang-orang tercintanya gugur di Karbala, seorang saksi sejarah tragedi ini berkata;

و الله ما رایت‌ مکثورا قط قد قتل ولده و اهل بیته و اصحاب اربط جاشا منه.

“Demi Allah, aku tidak pernah melihat seseorang yang remuk redam kerena anak, keluarga, dan para sahabatnya terbunuh tapi jiwanya setegar dia (Imam Husain).”[5]

para-pejuang-karbala

Ketenangan Para Pengikut Imam Husain as

Keluarga Imam Husain as juga sangat tegar, tenang dan tak gentar menghadapi kematian. Sayyid Ibnu Thawus mengisahkan bahwa dalam perjalanannya menuju Karbala Imam Husain as sempat singgah di Tsa’labiyyah. Di situ beliau sempat tertidur dan bermimpi. Setelah bangun beliau menceritakan kepada keluarganya apa yang dilihatnya dalam mimpi ihwal akan gugurnya beliau dan para pengikutnya. Bukannya gentar, putera beliau Hazrat Ali Akbar as malah berkata, “Bukankah kita berada di jalan yang benar?” Imam menjawab, “Ya, kita di jalan yang benar.” Ali Akbar berkata, “Demi Allah Yang semua makhluk akan kembali kepadaNya, kita tak perlu peduli (gentar) kepada kematian.”[6]

Pada malam Asyura pun, hal yang sama juga terlihat dalam diri remaja kemenakan beliau, Hazrat Qasim bin Hasan bin Ali as ketika para sahabat Imam Husain as berkumpul dalam tenda. Saat itu Imam as harus mengambil keputusan dan memberitahukan bahwa beliau dan para pengikutnya besok akan gugur. Rupanya, Hazrat Qasim justru kuatir dia tidak ikut mereguk air mata kesyahidan sehingga bertanya kepada Imam as, “Paman, apakah aku juga akan gugur?” Imam as terharu dan balik bertanya, “Bagaimana kematian, menurutmu?” Hazrat Qasim menjawab, “Kematian bagiku lebih manis daripada madu.”[7] Dan benar, di hari Asyura kemenakan Imam berparas tampan itu bersikeras meminta izin beliau untuk ikut bertempur di medan laga. Dia mendapat izin hingga kemudian namanya turut bertengger dalam prasasti sejarah  syuhada agung Tragedi Karbala. (Baca: Anak-anak Kecil Pun Menyambut Seruan Imam Husain a.s. – Bag. 2)

Ungkapan serupa juga dilontarkan oleh Abu Fadhl Abbas as, adik Imam Husain as. Ketika Imam Husain as berkhutbah dan mempersilahkan para pengikutnya untuk pergi meninggalkan Karbala agar tidak ikut tersambar maut,  Abu Fadhl Abbas as adalah orang pertama yang menyatakan bersiteguh untuk tetap berada di sisi beliau. Dia berseru, “Apakah kami pergi ini adalah hidup sepeninggalmu? Tidak. Semoga Allah tidak sekali-kali menciptakan hari seperti itu untuk kami.  ”[8]  Suara Abu Fadhl Abbas as ini lantas mengundang para pengikut Imam Husain as lainnya untuk ikut bersuara serupa.

Tak kurang, Muslim bin Ausajah, berseru, “Demi Allah, tekadku dalam menolongmu sudah sedemikian teguh sehingga kalaupun aku tahu bahwa aku akan dibunuh lalu dihidupkan lagi lalu dibunuh kemudian dibakar dan abuku dihamburkan ke udara, dan mati dan hidup ini berulang sampai 70 kali, aku tetap tidak akan sudi berpisah darimu sampai aku menyongsong kematian di hadapanmu.”

Tak kalah lantangnya, Zuhair bin al-Qain juga bangkit bersumpah, “Demi Allah, aku lebih suka terbunuh dan dihidupkan 1000x lalu dibunuh lagi asalkan jiwamu dan para pemuda keluargamu terlindungi.”[9] (mz)

Bersambung

[1] Al-Luhuf, hal. 52 dan 53.

[2] Ibid, hal. 69.

[3] Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 31.

[4] Ibid, jilid 44, hal. 378.

[5] Al-Luhuf, hal. 50.

[6] Ibid, hal. 60.

[7] Itsbat al-Hudah, jilid 5, hal. 204, hadis 61.

[8] Bihar al-Anwar, jilid 44, hal. 393.

[9] Tarikh al-Thabari, jilid 4, hal. 318.

Baca: “Tragedi Karbala, Ketentraman Jiwa di Tengah Badai (3)

 

No comments

LEAVE A COMMENT