Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Bagaimana Keluarga Mempengaruhi Kehidupan Manusia? (Bag 2)

Kerjasama Pasangan Suami Istri; Pembagian Pekerjaan Rumah Tangga

Pembagian kerja rumah tangga merupakan salah satu cara yang paling bermanfaat dalam inovasi mengumpulkan kekayaan sejak dulu hinga kini. Kerjasama pasangan untuk mencapai tujuan memiliki keturunan dan kekayaan tidak akan tercapai tanpa pembagian kerja.

Pada abad ke sembilan belas disepakati bahwa mengasuh anak dengan kasih sayang dan menjaganya secara penuh merupakan peran perempuan. Sedangkan laki-laki berperan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kehidupan keluarga. Agar dapat menjalankan perannya masing-masing dibutuhkan spesifikasi dari kedua pasangan dalam bentuk pembagian kerja. Pembagian peran ini dapat memotivasi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jumlah semisal 5 orang. Pada masa itu, undang-undang yang mengantisipasi persaingan tidak sehat antara laki-laki lajang dengan perempuan atau laki-laki menikah dalam mengumpulkan pendapatan sangat jarang ditemukan. Dengan demikian laki-laki lebih banyak terserap ke dunia kerja dan perempuan masuk ke ranah domestik (rumah). Pola ini menjadi pola yang paling spesifik dan berhasil dalam mengumpulkan kekayaan. Pola ini tidak menimbulkan ketergantungan tetapi memunculkan rasa kesetiaan dan solidaritas dalam keluarga. Kelompok radikal sebenarnya ingin menghancurkan kesetiaan dan solidaritas ini dengan senjata isu kemerdekaan ekonomi. (Baca: Dr. Zahra Musthafawi: “Apakah persamaan hak laki-laki dan perempuan memberikan kemaslahatan?”)

Selama satu setengah abad hal tersebut di atas menjadi prestasi yang penting bagi keluarga dan upaya perlindungan anak. Kemudian kelompok ekstrim berupaya untuk merusak sistem moral keluarga. Mereka menginginkan agar kedua orangtua bekerja di luar rumah dan prestasi tadi diserahkan kepada lembaga penitipan anak dengan keterpaksaan. Selain itu, diciptakan strategi baru berkaitan dengan kekayaan sehingga mendorong keduanya keluar dari rumah.

Para reformis periode sebelumnya mengupayakan agar ibu dan anak masuk ke rumah, tapi sekarang mereka berupaya mengeluarkannya. Kondisi ini menurut Alexis de Tocqueville menyebabkan isu kesetaraan sebagai motivasi tertinggi sebagai pengganti kebebasan yang bertanggungjawab. Kesetaraan dimaknai sebagai kehidupan bersama tanpa adanya relasi kebersamaan antara satu dengan lainnya.

Sistem keluarga tradisional menetapkan peran laki-laki sebagai  pasangan dan pembawa keturunan bagi perempuan. Selanjutnya perempuan akan bergantung pada laki-laki dalam hal penjagaan dan perlindungan. Secara tersirat kesepakatan sosial ini bermakna bahwa laki-laki sebagai penjamin pemenuhan kebutuhan dan perempuan sebagai pengasuh. Kedua jenis kelamin ini saling bergantung satu dengan lainnya dalam relasi yang setara meskipun kebutuhannya berbeda. (Baca: Bagaimana Menghadapi Anak Balita yang Sering Mengamuk?)

Pembagian kerja dalam rumah tangga memiliki pengertian yang lebih tinggi dari apa yang terlihat. Hal ini merupakan simbol sistem nilai yang sempurna dengan prioritas yang menempatkan posisi keluarga lebih tinggi dari individu. Pembagian kerja ini merupakan bagian dari piramida kekuasaan alamiah yang diambil dari sistem patriarki (yang sangat tidak disukai oleh aktivis kesetaraan). Dapat dinyatakan bahwa model ini berlaku universal, karena seluruh sistem sosial memiliki rangkaian piramida. Masalah mendasar era kini bersumber dari upaya fanatis yang dilakukan untuk menggantikan piramida alamiah tersebut.

Keluarga dan Masyarakat

Charles Muray dalam bukunya “In Pursuit of Happines and Good Government” menyatakan bahwa dalam Negara, masyarakat harus aktif dan berkembang. Ketika Negara tidak lagi membebani masyarakat dengan kewajiban, pada hakikatnya hilanglah masyarakat itu. Maka ketika kewajiban kemanusiaan dihapus dari masyarakat, keluarga akan kehilangan penghargaan moralnya. Ketika masyarakat sehat, nilai-nilai memiliki kekuatan. Kemudian akan memancarlah pendaran kemilau moralitas yang menepis seluruh nilai dan tindakan asosial.

Manusia tidak membangun masyarakat hanya untuk mengumpulkan orang-orang. Tetapi, mereka membentuk masyarakat agar dapat melakukan berbagai pekerjaan bersama terutama hal yang sangat penting berkaitan dengan kemanusiaan. Misalnya: saling mencintai antar sesama, saling menjaga, mengambil keputusan tentang nilai-nilai penting, menjaga nilai dan melestarikannya, serta membantu orang yang kekurangan. (Baca: Apakah Definisi Sahabat Menurut Madrasah Ahlul Bayt? – 1)

Kasih Sayang, Reproduksi dan Kontrol Seksualitas

Goerge Gilder dalam buku “Men and Marriage” menyatakan bahwa berdasarkan penelitian laki-laki dan perempuan sangat berbeda sejak kelahirannya. Saat mencapai usia baligh, perbedaan itu akan menyempurna dan sejak saat itu tubuh laki-laki dipenuhi oleh energi yang tak dapat didefenisikan. Energi tersebut sepenuhnya membutuhkan panduan tuntunan budaya. Sedangkan perempuan tidak terlalu bermasalah dengan perubahan biologisnya. Mereka segera memahami potensi yang dimilikinya berfungsi untuk memudahkannya melahirkan manusia baru.

Tanpa tekanan sosial dan tuntunan pada tujuan yang lebih tinggi dari dorongan naluriah dasar, laki-laki akan bertindak tanpa tanggungjawab dan terlibat kriminalitas. Dari 12.500 tahanan FBI di Kanada, perempuan hanya berjumlah kurang dari 300 orang. Laki-laki juga menyukai hubungan seksual tanpa ikatan dengan banyak orang dan jika tidak berbahaya baginya, mereka memilih terus mengejar kenikmatan. Laki-laki tidak menyukai anak-anak sampai mereka memiliki anak sendiri. Hal ini memiliki makna khusus dalam perspektif sosiologi. (Baca: Stop KDRT Dengan Manajemen Stres)

Pengaruh perkawinan dan keluarga meninggalkan jejaknya bagi masyarakat. Perkawinan menjamin penghapusan kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan laki-laki. Selanjutnya perkawinan membawa laki-laki menjadi teladan reproduksi jangka panjang dan keberlangsungan garis keturunan. Sebagai gantinya, kedua pasangan sepakat untuk tidak berhubungan seksual dengan oang asing di luar perkawinan. Inilah yang disebut sebagai kontrol dorongan seks yang dengannya keluarga menjadi dibanggakan oleh masyarakat. Dengan demikian perempuan dan laki-laki saling mencintai secara sah dalam ikatan yang dapat diprediksi.

Gilder yakin bahwa kekuatan perkawinan dan keluarga pada setiap masyarakat bukan berakar dari lemahnya fisik perempuan dibanding laki-laki. Tapi justru bersumber dari kekuatan peredam mereka, yaitu kekuatan perempuan untuk membawa laki-laki kedalam model reproduksi feminin. Karena itu, jika peduli terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis masyarakat, kita harus menghentikan pembicaraan tentang orientasi seks. Sebagai gantinya kita layak membahas isu keluarga.

Sumber: Gairdner William, “The War Against the Family” terjemahan bahasa Persia “Jangg alaihi khanvadeh” , Markaz Mudiriat Hauzeha-ye Ilmiah Khaharan, Daftar Muthalaat Zanan, 1387 HS.

Baca Selanjutnya: “Bagaimana Keluarga Mempengaruhi Kehidupan Manusia? (Bag 3/Tamat)

 

No comments

LEAVE A COMMENT