Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Metode Islam Menumbuhkan Rasa Peduli Sosial

Akidah Islam telah menumbuhkan rasa peduli sosial dalam sanubari setiap individu dengan berbagai metode dan cara, antara lain:

1) Membangkitkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap nasib orang lain (dalam sanubari setiap individu)

Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan dan penekanan Al-Qur’an dan hadis-hadis maksumin a.s. di bawah ini akan pentingnya hal itu. 

Rasulullah Saw bersabda: “Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib orang-orang yang dipimpinnya. Setiap orang yang memegang urusan sekelompok manusia adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nasib rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib keluarganya. Seorang istri hendaknya mengurus rumah suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib mereka.” [Shahih Muslim 3/1459, Kitab al-Imarah, Dar Ihya`it Turats]

Amirul mukminin a.s. berkata: “Takutlah kepada Allah berkenaan dengan hamba-hamba dan negeri-Nya ini, karena kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas tanah dan binatang (yang kamu miliki, apalagi atas hamba-hamba dan negeri-Nya itu).” [Nahjul Balaghah, khotbah 167]

Baca: Amar Makruf Nahi Munkar sebagai Kontrol Sosial

Sebagai perbandingan, kita melihat bahwa aliran-aliran pemikiran sosial hasil rekayasa otak manusia biasa hanya mementingkan rasa tanggung jawab setiap individu (terhadap masyarakatnya di dunia ini saja). Dan bertolak dari cara berpikir semacam ini, para pencetus aliran-aliran pemikiran tersebut (demi merealisasikan teori tersebut di atas bumi ini), terpaksa menulis serentetan undang-undang resmi yang diharapkan akan mampu merealisasikan tujuan mereka itu, seperti pengekangan kebebasan, penyiksaan, pendendaan dengan uang, pemecatan dari tugas, penaikan pangkat dan lain sebagainya.

Dan ada kalanya respons masyarakat yang beraneka ragam juga mampu untuk mengontrol setiap individu supaya melaksanakan tanggung jawabnya sebaik-baiknya, seperti kepercayaan dan penghargaan masyarakat kepadanya atau penghinaan mereka terhadapnya Adapun agama Islam, ia tidak hanya mementingkan tanggung jawab individu terhadap masyarakatnya di dunia saja, akan tetapi ia juga berusaha untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab di dalam sanubarinya terhadap Penciptanya di dunia lain kelak. Dengan ini, ia akan berusaha untuk menguasai hawa nafsunya dan peduli terhadap orang lain tanpa harus ada undang-undang resmi dan respons masyarakat atau rasa iba yang memaksanya.

2) Menumbuhkan jiwa berkorban dan lebih mementingkan orang lain

Al-Qur’an yang mulia menganjurkan para pengikutnya untuk lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri dan memuji jiwa berkorban yang dimiliki oleh muslimin. Ketika Imam Ali a.s. rela mengorbankan jiwanya demi Rasulullah Saw hidup dengan tidur di atas ranjang beliau (pada peristiwa Lailatul Mabit), Allah Swt memuji jiwa berkorban yang ia miliki tersebut dalam firman-Nya: “Dan ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [Tafsir Majma’ul Bayan 1/174]

Al-Fakhrur Razi menulis bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib a.s. ketika ia tidur di atas ranjang Rasulullah Saw di malam keluarnya beliau menuju gua Tsaur. Diriwayatkan, ketika ia tidur di atas ranjang beliau, Jibril berdiri di arah kepalanya dan Mikail di arah kakinya. Jibril bersabda: “Alangkah bahagianya engkau, hai Ali bin Abi Thalib. Allah telah membanggakanmu di hadapan malaikat.” Lalu turunlah ayat itu. [At-Tafsirul Kabir 5/223]

Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Rasulullah Saw adalah suri teladan utama dalam mementingkan orang lain dan jiwa berkorban. Diriwayatkan, beliau tidak pernah makan hingga kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat. Jika beliau menghendaki, semua kekayaan berada di bawah tangan beliau. [Tanbihul Khawathir, Amir Al-Warram 1/172, bab al-itsar]

Perilaku dan perangai beliau ini dapat kita lihat dengan jelas pula dalam tingkah laku dan perangai Ahlulbait a.s. Mereka berjalan di atas jejak beliau dan merealisasikan sabda-sabda beliau dalam bentuk praktik nyata. Demikianlah akidah Islam mendidik insan muslim untuk memiliki rasa peduli sosial setiap individu terhadap orang lain. Satu rasa peduli yang pada langkah awalnya harus dimulai dari kepedulian seseorang terhadap anggota keluarganya, tetangga, anggota negara, umat seagamanya dan kemudian umat manusia secara keseluruhan.

3) Menumbuhkan rasa kebersamaan

Sehubungan dengan hal di atas, kita memiliki beberapa hadis yang menganjurkan setiap individu untuk hidup bersama dan tidak memisahkan diri dari masyarakat (jamaah). Hal ini karena telah terbukti secara nyata bahwa hidup bersama akan menyebabkan kokohnya pondasi masyarakat, dan Allah Swt akan menganugerahkan kebaikan dan berkah kepada sebuah masyarakat yang hidup bersama. 

Rasulullah Saw bersabda: “Allah bersama kelompok, sedangkan setan bersama orang-orang yang menentang hidup berkelompok.” [Kanzul ‘Ummal, 1/206]

Dalam hadis lain beliau bersabda: “Barang siapa yang keluar dari (hidup ber)-kelompok satu jengkal, maka ia telah melepaskan dirinya dari tali Islam.” [Kanzul ‘Ummal, 206/1035]

Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa Islam adalah agama sosial yang selalu berusaha semaksimal mungkin merangsang setiap individu hidup secara berkelompok. Sangat disayangkan, pemerintahan-pemerintahan yang zalim dalam rangka mengukuhkan kekuasaan dan singgasana mereka, mereka telah menyalahgunakan maksud kosa kata “kelompok” (jamaah) tersebut. Mereka mencurahkan seluruh amarah mereka kepada setiap orang yang menyuarakan kebenaran, bersikap menentang kekuasaan dan menjelek-jelekkan cara-cara mereka yang tidak Islami (dengan tuduhan ia telah keluar dari jamaah).

Sebagai contoh, Bani Umayyah telah membunuh setiap orang yang menentang mereka dengan tuduhan ia telah keluar dari jamaah. Begitu juga Bani Abbas telah menggunakan metode yang pernah digunakan oleh Bani Umayyah dalam usaha memberantas orang-orang yang menentang mereka. Bahkan mereka memiliki teknik-teknik pembunuhan dan penyiksaan lebih kejam dari Bani Umayyah. Setiap orang yang mau menelaah buku-buku sejarah, ia akan menemukan teknik-teknik penyiksaan dan pembunuhan keji yang pernah dipraktikkan oleh Bani Umayyah dan Bani Abbas terhadap keturunan Ali bin Abi Thalib a.s. Hal ini karena mereka menganggap bahwa keturunan Ali bin Abi Thalib a.s. tersebut telah keluar dari jamaah.

Rasulullah Saw telah menjelaskan maksud dari kosa kata jamaah secara gamblang. Jamaah – sebagaimana yang diartikan oleh orang-orang yang berpikiran dangkal dan diselewengkan oleh para penguasa- tidak memiliki arti mayoritas. Akan tetapi, yang dimaksud dengan jamaah (dalam hadis-hadis di atas) adalah kelompok ahli kebenaran meskipun secara kuantitas mereka sedikit. 

Baca: Memperbaiki Hubungan Sosial

Sehubungan dengan hal itu Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah muslimin, maka ia telah melepaskan diri dari tali Islam.”

“Wahai Rasulullah, siapakah jamaah muslimin itu?”, tanya salah seorang sahabat. Beliau menjawab: “(Jama’ah muslimin adalah) kelompok ahli kebenaran meskipun jumlah mereka sedikit.” [Raudhatul Wa’idhin, Fattal An-Naisaburi, hal. 334]

Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa akidah Islam menyeru setiap individu muslim untuk bergabung dengan jamaah. Akan tetapi, ada beberapa hadis dalam buku-buku referensi keislaman kita yang menyeru muslimin untuk beruzlah (mengasingkan diri) dan menjauhkan diri dari masyarakat. 

*Disarikan dari buku Peran Akidah – Markaz ar-Risalah

No comments

LEAVE A COMMENT