Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Belajar Kesabaran dari Zainab Srikandi Karbala

zaenab-kubra

Udara terasa panas, keringat mulai membasahi pakaianku. Beberapa kali aku dan adikku berdiri karena lelah duduk. Kami sudah lama duduk di ruang tunggu menanti antrian dan panggilan untuk diperiksa. Tiba-tiba pandanganku jatuh kepada seorang dokter yang sedang termenung di kebun rumah sakit. Aku katakan pada adikku supaya duduk di tempatnya untuk menunggu nomer antrian. Aku sendiri bergegas mendekati dokter itu dan menyapanya.

Setelah perkenalan ringan, aku sedikit menceritakan kondisi adikku, dokter itu berkata: “Bersabarlah, sesungguhnya Allah swt bersama orang-orang yang sabar.”

Lalu dokter bercerita kepadaku tentang pengalamannya, ia berkata: “Tepatnya hari selasa kemarin saya melakukan operasi pada seorang anak berusia 2.5 tahun. Operasi berjalan lancar. Keesokan harinya anak tersebut terlihat sehat dan bermain di kamarnya. Pada hari Kamis pukul 11:15 saya tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut, tiba-tiba salah seorang perawat mengabari bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Sayapun pergi dengan cepat mendatangi anak tersebut, kemudian saya melakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah swt menentukan yang lain, jantungnya kembali berfungsi. Alhamdulillah…”

Baca: “10 Kemuliaan Sayyidah Zainab as (1)

Tidak sampai di situ, anak itu mengalami pendarahan, dan jantungnya kembali berhenti. Kali ini saya harus memberitahu keluarganya. Kebetulan hari itu yang menjaga ibunya. Saya menceritakan kondisi putranya.

Coba adik- adik tebak, kira-kira apa  jawaban ibu tersebut? Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!” Dengan penuh kesabaran sang ibu berkata: “Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan kondisi anak tersebut belum berubah, malah lebih parah. Dia terserang penyakit aneh yang saya sendiri belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Keadaan ini memaksa saya untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, adik akan melihat jantungnya berdenyut dengan jelas.

Baca: “Rasionalitas Gerakan Imam Husain as

Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini, saya berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.”

Sang ibupun berkata: “Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya. Tak terasa air mataku membasahi pipi. Kesabaran ibu tersebut mengingatkan aku pada Srikandi Karbala, Sayyidah Zainab as. Musibah ibu tersebut belum bisa dibandingkan dengan musibah besar yang telah disaksikan dengan kesabaran penuh dan keimanan yang kuat oleh Sayyidah Zainab as.

Sayyidah Zainab adalah sosok wanita muslimah teladan. Beliau memiliki kepribadian multidimensi. Beliau adalah sosok yang pandai, berpengalaman, ahli ibadah, memiliki makrifat yang tinggi. Siapa saja yang berhadapan dengannya akan tertunduk menyaksikan keagungan ilmu dan jiwanya…

Jika adik-adik membuka lembaran sejarah Asyura dan Karbala, maka adik-adik akan merasakan kesedihan dan kepedihan yang dirasakan oleh Sayyidah Zainab as. Beliau kehilangan kedua putranya, keponakannya, dan saudara kesayangannya yang telah dibantai dengan keji dihadapannya. Bahkan beliau harus mengalami siksaan selama menjadi tawanan. Namun apa yang beliau katakan di hadapan Ubaidillah bin Ziyad ketika memperoloknya, Sayyidah Zainab berkata: “Aku tidak melihat semua ini kecuali keindahan.”

Baca: “Cinta Kasih Imam Husein as

Musibah yang bertubi-tubi tidak sama sekali membuat Sayyidah Zainab as lemah dan menyerah. Di hadapan khalayak, beliau menerangkan kedekatan hubungannya dengan Nabi Saw dengan menyebut beliau dengan sebutan ayah. Dengan cara ini, Sayyidah Zainab menggugah kesadaran umat akan siapa sebenarnya tawanan Karbala ini yang tak lain adalah anak cucu Nabi Saw.

Beliau lantas menyinggung pengkhianatan warga Kufah. Dengan kata-kata yang indah memukau dan tajam, Sayyidah Zainab menjelaskan kejahatan besar yang telah dilakukan warga Kufah terhadap keluarga Nabi saw. Dalam salah satu penggalan khutbahnya yang menjelaskan pedihnya tragedi Karbala, Zainab berkata: “Hampir saja langit terbuka, bumi terbelah dan gunung berhamburan. Bukan hal yang mengherankan jika langit menurunkan tetesan-tetesan darah karena kepedihan duka ini.”

Hal lain yang dilakukan Sayyidah Zainab dalam mengenalkan misi pengorbanan Imam Husein as adalah dengan menggelar acara berkabung saat berada di Syam, pusat kekuasaan Bani Umayyah. Acara berkabung itu mampu menyadarkan umat, sehingga mereka yang menyaksikan atau mendengarnya terbakar kesedihan yang berujung pada gejolak untuk menyerang Yazid bin Muawiyah.

Baca: “Ahlul Bait, Pengawal Umat

Bagi pihak musuh, apa yang dilakukan Srikandi Karbala ini terkesan kecil dan remeh. Namun tanpa mereka sadari, kesan yang ditimbulkannya sangat besar dan berhasil melahirkan gelombang penentangan terhadap kekuasaan Bani Umayah. Sayyidah Zainab hanya bertahan hidup setahun setelah peristiwa Karbala. Namun dalam masa yang singkat itu, setiap kesempatan selalu beliau manfaatkan untuk menerangkan misi kebangkitan Imam Husein as yang berujung pada kesyahidan beliau di Karbala.

Sosok Sayyidah Zainab as menjadi teladan sepanjang sejarah, teladan kesabaran, ketegaran, keberanian, semangat, ketegasan dan kebesaran jiwa.

Semoga kakak dan adik-adik semua mampu meneladani sifat dan akhlak mulia beliau as.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126)

Baca: “Tidakkah Sayyidah Zainab as Pasca Tragedi Karbala Kembali ke Madinah, Lalu Mengapa Makam Beliau di Suriah?

No comments

LEAVE A COMMENT