Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Dibangkitkannya Seluruh Makhluk di Hari Kiamat

Dan tiadalah binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (QS. al-An’am: 38)

Ayat di atas menyatakan bahwa semua makhluk melata di muka bumi yang akan dihimpun di Padang Mahsyar, karena mereka adalah umat-umat seperti manusia. Makhluk-makhluk ini diciptakan berdasarkan tujuan yang benar. Artinya, segala sesuatu yang telah diciptakan Allah secara hak dan berdasarkan tujuan yang benar -bukan didasari oleh kebatilan- dan yang tercatat dalam Kitab Induk atau Lauh Mahfuzh yang hak.

Seluruh jenis binatang yang hidup di permukaan bumi serta burung-burung yang terbang di udara, semuanya memiliki keserupaan dengan umat manusia. Masing-masing memiliki ciri, kekhususan, dan sistem yang tidak jauh berbeda. Salah satu kesamaan mereka adalah bahwa seluruhnya akan kembali ke sisi Tuhan mereka dan dibangkitkan lalu dikumpulkan di sisi-Nya. Allah Swt bahkan secara umum menyatakan bahwa setiap yang bernyawa di langit dan di bumi akan dihimpun (di Padang Mahsyar) pada Hari Kiamat nanti.  Dia berfirrnan:

Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa   mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. (QS. asy-Syura: 29)

Baca: Ahli Rajab di Hari Kiamat

Pada ayat lain disebutkan-Nya bahwa:

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri. (QS. Maryam: 93-95)

Ayat kedua di atas menegaskan bahwa seluruhnya akan menghadap Allah sebagai seorang hamba. Artinya, setiap makhluk-Nya akan menghadap kepada-Nya dengan penuh penghambaan diri, tentunya masing-masing dengan kualitas penghambaan diri yang berbeda. Firman-Nya di atas yang menyatakan: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri” menjelaskan maksud dari firman-Nya pada surah asy-Syura: 29 di atas yang menyatakan: “Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya” sehingga makna yang dapat kita pahami tentang makna penghimpunan atau pengumpulan (di Padang Mahsyar) kelak di sini berbeda dengan yang selama ini kita pahami.

Banyak sekali ayat yang menerangkan keniscayaan penghimpunan di Padang Mahsyar pada Hari Kiamat nanti. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman. (QS. al-An’am: 12)
  2. (Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal salih niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. at-Taghabun: 9)
  3. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. (QS. az-Zumar: 71)
  4. Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). (QS. az-Zumar: 73)
  5. Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. al-Anfal: 37)

Berkenaan dengan pembangkitan kembali benda-benda yang tidak bernyawa, Allah Swt berfirman:

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai Hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat) niscaya   sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.  (QS. al-Ahqaf: 5-6)

Baca: Sehari Satu Ayat: Balasan Tidak Terbayangkan

Ayat ini dimulai dengan mempertanyakan siapa yang lebih sesat dari mereka yang menyembah berhala-berhala yang tidak dapat mengabulkan permohonan para penyembahnya. Bahasa Arab menyebut gaya penuturan seperti ini sebagai salah satu bentuk kecaman. Selanjutnya ayat di atas menyebutkan dua sifat berhala-berhala yang disembah kaum musyrik; pertama, mereka dapat memperkenankan sedikit pun permohonan dan bantuan para penyembahnya. Kedua, berhala-berhala itu senantiasa lalai atas permohonan para penyembahnya.

Penyifatan berhala-berhala dengan sifat makhluk yang memiliki rasa oleh ayat di atas (yaitu melalui  penunjukan berhala-berhala tersebut dengan kata ganti “mereka” yang hanya digunakan di dalam bahasa Arab sebagai kata ganti bagi yang bernyawa dan berpikir) merupakan salah satu bukti  adanya kehidupan dan rasa pada segala sesuatu, sekalipun pada benda-benda tak bernyawa, yakni hidup dan rasa yang sesuai dengan sifat dan kodratnya sebagai benda, yang dalam ukuran manusia tidak bernyawa. Kehidupan dan rasa itu yang kini dalam kehidupan dunia kita tidak dirasakan kehidupannya, akibat tidak nampaknya darinya tanda-tanda kehidupan, namun di akhirat nanti akan terlihat dengan jelas tanda-tanda kehidupan itu.

Pernyataan ayat di atas bahwa sembahan-sembahan kaum musyrik yang antara lain berupa berhala-berhala akan berlepas diri dari para penyembahnya, artinya bahwa Allah menganugerahkan kepada mereka kemampuan “berbicara” sebagaimana Yang Mahakuasa menganugerahkan kepada manusia dalam kehidupan dunia ini kemampuan berbicara.

Atau dapat juga sikap berlepas diri itu tidak terucapkan dengan kata-kata tetapi dipahami oleh para penyembahnya sebagai sikap berlepas diri, karena ketika itu, nampak dengan jelas bagi semua pihak ketidakmampuan apa dan siapa pun untuk mengadakan pembelaan kepada para penyembah selain Allah, padahal dalam kehidupan dunia ini para penyembah tersebut percaya bahwa sembahan-sembahan mereka akan menolong mereka. Ayat-ayat yang senada dengan ayat di atas adalah firman Allah SWT yang menyatakan bahwa:

  1. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir: 13-14)
  2. Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka: “Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami.” (QS. al-Qashash: 63)
  3. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. (QS. an-Nahl: 21)

Dari sini jelas bahwa semua yang disembah manusia selain Allah baik berupa benda yang tidak memiliki roh seperti berhala, pohon, atau yang memiliki roh seperti setan dan malaikat akan dibangkitkan pada Hari Kiamat nanti, seperti ditegaskan oleh ayat di atas.

Baca: Pentingnya Iman kepada Ma’ad

Perlu diketahui bahwa tidak sedikit riwayat-riwayat dari Rasulullah saw dan keluarga sucinya yang menguatkan hal ini (yakni keniscayaan dibangkitkannya kembali makhluk-makhluk selain manusia) seperti misalnya riwayat yang menyatakan bahwa anjing yang menyertai tujuh pemuda Ashhabul Kahf, unta Nabi Saleh a.s, dan binatang tunggangan yang digunakan untuk melakukan ibadah haji sebanyak tiga atau tujuh kali haji akan masuk surga. Riwayat lain menyatakan bahwa pada Hari Kiamat nanti binatang-binatang buas akan masuk ke dalam neraka untuk menggerogoti para pendurhaka.

Allah SWT berfirman: Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. (QS.  at-Takwir:  5)

*Dikutip dari buku Ada Apa Setelah Mati – Alamah Sayyid Husain Thabathabai


No comments

LEAVE A COMMENT