Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Hati yang Dapat Mengambil Pelajaran (Ibrah)

Untuk menjinakkan hati, seseorang harus mengingat kematian. Namun, yang penting di sini adalah, bagaimana supaya manusia mengingat kematian? Harus dikatakan bahwa semua manusia tidaklah sama dan berbeda-beda. Sebagian manusia hanya dengan menyadari bahwa suatu hari nanti akan mati dan hidup di dunia tidak akan abadi, maka ingatan tentang kematian akan selalu hidup di hatinya. Namun sebagian yang lain, mereka harus terlebih dahulu melihat contoh-contoh nyata dari kematian untuk dapat mengingat dan merenungkan kematian, yakni sebelum mereka menyaksikan kematian dengan mata kepala sendiri, maka sekadar mengetahui tentang kematian tidak akan memberikan pengaruh apa-apa.

Jelas sekali, bahwa “melihat” mempunyai pengaruh yang berbeda dibandingkan dengan “mendengar dan memahami.” Banyak hal yang diketahui oleh manusia, namun pengaruh yang diberikan oleh pengetahuan tidak akan pernah sama dengan pengaruh yang diberikan oleh penglihatan pada sikap dan perilakunya. Bila seseorang akhirnya berkesempatan melihat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya, akan muncul pengaruh baru pada dirinya yang sebelumnya tidak ada.

Sebaik-baik jalan bagi seseorang agar hatinya mengingat kematian dan tidak bernilainya dunia dibandingkan dengan akhirat, adalah dengan melihat langsung dari dekat berbagai bekas bencana, malapetaka, peperangan, hancurnya rumah-rumah dan istana serta beragam kesulitan yang terjadi di dunia. Menelaah dan mempelajari bekas-bekas sejarah kehidupan manusia seperti di atas atau mendiskusikannya juga sangat berguna, namun pengaruhnya tidak akan sedahsyat apabila seseorang melihat dengan mata kepala sendiri bekas-bekas bencana dan malapetaka tersebut.

Baca: Keharusan Memperhatikan Salat dan Merasakan Kehadiran Allah

Jika seseorang menyaksikan semua itu dari dekat, pengaruhnya jauh lebih besar dibandingkan dengan sekadar mengetahuinya. Mungkin poin inilah yang menjadi sebab mengapa Alquran memberikan anjuran yang sangat ditekankan atas manusia untuk menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi, karena di dalam melihat terdapat pengaruh yang tidak ada pada mendengar atau menelaah. Oleh karenanya, Allah Swt berfirman di dalam Alquran: Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, lalu lihat dan saksikan bagaimana nasib orang-orang yang terdahulu” atau, Katakanlah, “Berjalanlah di muka bumi, lalu lihat dan saksikan bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan [para nabi].” (QS. an-Nahl: 36)

Mungkin alasan anjuran Allah Swt ini, agar manusia melihat langsung dan mengambil dari apa-apa yang menimpa orang-orang terdahulu. Karenanya, Allah Swt tidak menggunakan kata I’lamu (ketahuilah) atau isma’u (dengarlah), tetapi Dia berkata: fa sirû fi al-ardhi fanzhuru, yakni saksikan dan lihatlah dari dekat. Manusia diajak untuk melihat dan menyaksikan, tidak sekadar mengetahui dan mendengar.

Kita sering kali mendengar bahwa di daerah atau kota tertentu telah terjadi bencana banjir, gempa atau bencana-bencana alam lainnya, namun sekadar mendengar ini tidak sama dengan apabila kita menyaksikan banjir atau gempa terjadi di tempat tinggal kita sendiri, lalu kita saksikan juga berbagai kerusakan, kehancuran dan kesulitan yang diakibatkannya. Tentu, pengaruh kita menyaksikan dan mengalami sendiri bencana berikut akibatnya, jauh lebih besar ketimbang kita mendengar ada sebuah bencana terjadi nun jauh disana.

Hal ini juga pula yang menjadi fokus keterangan yang diberikan oleh Imam Ali a.s., yakni usahakanlah untuk melihat dan menyaksikan dari dekat berbagai masalah, ketidaksetiaan, berubah-ubahnya keadaan dan kesulitan-kesulitan dunia, agar memberikan pengaruh yang cukup pada diri kita, sehingga hati kita tidak akan tertipu dengan kehidupan dunia yang sangat hina. Apabila memandang gemerlap dunia, istana-istana, bangunan-bangunan yang megah nan indah, kebun-kebun dan beragam pemandangan yang elok, menyebabkan hati kita terpaut pada dunia, maka di samping itu kita juga harus melihat berbagai malapetaka, bencana, kehancuran dan kesulitan-kesulitan dunia, agar tercipta keseimbangan dalam hati dan kita tidak terlalu jatuh cinta pada dunia. Karena jika tidak begitu, hati kita akan terpaut dengan dunia. Bila hati sudah terpaut dengan dunia, kita akan melupakan akhirat, yang akan membawa kita pada siksa abadi. Oleh sebab itu, beliau memberikan pesan khusus berkaitan dengan masalah ini dan berkata: “Tunjukkan pada hatimu berbagai petaka dunia, agar hatimu melihat dan mengetahuinya.”

Kata “bashshirhu” di sini juga bisa diberi arti yang lain, yaitu bashirah. Yang dimaksud dengan bashirah adalah, bahwa manusia harus pandai-pandai dalam menghadapi berbagai petaka dan tipuan dunia agar tidak terjerumus dan tertipu. Alhasil, beliau tidak mengatakan “pahamkan pada hatimu” atau “ingatkan hatimu,” karena memang tujuannya bukan sekadar memahamkan pada hati, tetapi ada tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi, yaitu lakukanlah sesuatu agar hatimu melihat dan menyaksikan berbagai petaka dan kesulitan dunia.

Imam Ali a.s. mengajak hati untuk mengambil pelajaran (ibrah) dari ketidakmenentuan dan berubah-ubahnya kehidupan dunia. Beliau a.s. berkata: “Peringatkan hatimu akan kekuasaan waktu, tidak dapat diperhitungkannya perubahan (tidak dapat diprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi) dan pergantian siang dan malam.”

Waktu atau masa berpotensi untuk menguasai manusia. Hati manusia mempunyai banyak keinginan dan tidak pernah puas. Sementara itu, banyak orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi berbagai macam peristiwa yang terjadi sepanjang masa hidup, sepertinya telah memisahkan antara mereka dengan keinginan-keinginannya, sebagaimana juga telah memisahkan mereka dengan apa-apa yang telah dimilikinya. Oleh sebab itu, peringatkan hatimu akan serangan waktu, di mana dia tidak lagi memberi kesempatan padamu untuk bergerak dan berpikir.

Peringatkan juga hatimu akan terjadinya perubahan masa, karena perubahannya bisa terjadi sangat drastis dan menyakitkan. Jangan sekali-kali kamu menganggap perubahan keadaan di dunia ini remeh dan sepele. Sebagai misal, janganlah kamu mengira manfaat atau bahaya yang bisa terjadi di dunia ini, remeh dan tak berarti, tetapi sebagian perubahan boleh jadi sangat dahsyat dan luar biasa. Perubahan yang bisa terjadi di dunia, dapat melempar seseorang dari puncak kemuliaan yang paling tinggi menuju lembah kehinaan yang paling dalam. Boleh jadi seseorang hari ini di puncak kekuasaan, namun pada keesokan harinya dia akan berubah lemah, terhina dan tak berdaya apa-apa.

Perubahan yang sangat drastis ini, tidak hanya terjadi dalam masalah-masalah materiil, tetapi bisa juga terjadi dalam masalah-masalah maknawi dan spiritual. Banyak orang yang telah berhasil mencapai derajat tinggi bidang ilmu, ketakwaan, dan irfan, namun setelah beberapa waktu dia terjatuh ke jurang kenistaan, sehingga kenyataan yang terjadi akan sangat sulit untuk dipercaya. Dalam usia pendek hidup kita di dunia ini, peristiwa-peristiwa yang semacam ini telah terjadi, dan bila kita tidak melihat langsung dan hanya mendengar saja, kita akan sulit. untuk bisa percaya tentang bagaimana orang-orang yang telah mencapai puncak kemuliaan, bisa turun dan terjerumus ke jurang kehinaan, mereka terhinakan hanya dalam waktu yang sangat singkat; dari istana-istana surgawi terlempar menuju kedalaman neraka jahanam.

Baca: Hati adalah Tempat Suci Allah

Karenanya, kita harus menyadari, bahwa setiap saat terdapat kemungkinan terjadinya berbagai macam peristiwa seperti di atas, yang dalam waktu singkat dapat merampas dan merebut semua kemuliaan dan kebaikan yang kita miliki.

Kita harus selalu waspada, bahwa semua bahaya ini ada di hadapan jalan, kita harus arif dan pandai mengambil pelajaran. Jangan sombong dan lupa diri; jangan sekali-kali lalai akan bahaya yang mengancam hadapan perjalanan hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi, kecuali apabila kita tunjukkan dan perlihatkan kepada hati kita tentang berbagai perubahan dan peristiwa- peristiwa tragis yang telah menimpa umat manusia. Hanya dengan cara melihat dan menyaksikan berbagai perubahan itulah, hati kita akan dapat mengambil pelajaran dan ibrah.

*Disarikan dari buku 22 Nasihat Abadi Penghalus Budi – Ayatullah Taqi Misbah Yazdi

No comments

LEAVE A COMMENT