Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)

Ingin sehat dan selamat, yuk jaga kebersihan

Sesungguhnya Allah swt. Menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersih.” (QS. Al-Baqarah [2]:222)

Di pagi yang cerah, cahaya sang surya menyinari bumi, Angin segar berhembus semilir dan kicawan merdu burung menambah keindahan hari itu. Arif sudah berada dilapangan untuk joging, ia berlari kecil mengelilingi lapangan setiap pagi. Setiap lewat di depan rumah tetangganya, Arif selalu menyapa dengan ramah. Arif memang anak yang supel, ia mudah bergaul dengan siapa saja baik itu tua atau muda.

“Udaranya segar banget. Eh itu Pak Razak di depan rumah, aku sapa dulu ah,” gumam Arif

“Selamat pagi, Pak Razak,” sapa Arif.

“Selamat pagi juga, Nak Arif,” jawab Pak Razak.

Setelah melewati rumah Pak Razak di pinggir lapangan, Arif kini melewati rumah Bu Asih yang tidak jauh dari rumah Pak Razak.

“Selamat pagi, Bu Asih,” sapa Arif.

“Selamat pagi, Arif,” jawab Bu Asih.

Arif meneruskan lari-lari kecilnya sambil menikmati udara yang sejuk di pagi yang cerah itu. Ketika melewati satu rumah lainnya, Arif berhenti di depan rumah itu. Arif hanya geleng-geleng kepala, karena rumah itu sangat kotor dan kumuh. Halaman rumahnya penuh daun-daun berserakan dan rumput-rumput liar.

Itu kan rumah Kiki, anak yang kemaren masuk masjid dengan pakaian kotor,” gumam Arif dalam hati.

Tak lama kemudian Kiki keluar rumah membawa kantong plastik dan membuangnya di selokan depan rumahnya.

“Kiki benar-benar tidak bisa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan,” gumam Arif sambil geleng-geleng kepala.

Lalu Arif menyapa, “Kiki, buang sampah pada tempatnya dong, jangan di selokan.”

“Sudah biasa, Arif, tidak apa-apa kok, nanti juga diangkut tukang sampah dan dipindahkan,” jawab Kiki seenaknya.

“Jangan biasakan, Ki. Nanti kalau musim hujan bisa banjir lho karena sampah ini,” ucap Arif lagi.

“Arif, lihat itu! Matahari bersinar begitu terang, tidak mungkin hujan lah. Kamu lanjut saja lari paginya, jangan suka ngatur-ngatur orang lain!” bantah Kiki.

Arif kemudian melanjutkan lari paginya. Setelah merasa cukup, Arif menuju ke rumah. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba langit menjadi gelap. Arif mempercepat larinya dan setibanya di rumah, hujan turun sangat deras. Ia sejenak berpikir tentang selokan di depan rumah Kiki yang penuh dengan sampah. Arif khawatir jika hujan tidak berhenti, selokan itu pasti meluap dan mengakibatkan banjir.

Dugaan Arif benar, selokan di depan rumah Kiki meluap. Kiki pun kebingungan. Aliran air di selokan mampet karena terhalang sampah yang begitu banyak. Air terus naik hingga memasuki rumah Kiki.

“Kalau tadi pagi aku menuruti nasehat Arif, mungkin tidak begini jadinya,” kata Kiki menyesal.

Kiki berlari ke rumah Arif untuk meminta bantuan. Ia tak sanggup membersihkan rumah dan halaman sendiri.

Sampai di rumah Arif, Kiki mengutuk pintu dan berteriak, “Tok… tok… tok… Arif, tolong aku, cepat buka pintunya.”

“Ada apa, Ki? Kamu kok berantakan sekali?” tanya Arif.

“Tolong Rif, rumahku kebanjiran. Bantu aku membersihkan semuanya,” jawab Kiki.

“Baiklah, ayo kita segera ke rumahmu,” ajak Arif.

Mereka berdua bergegas pergi ke rumah Kiki. Di sepanjang perjalanan, Arif membertahu tetangga lainnya untuk membantu dan gotong royong untuk membersihkan rumah Kiki. Para tetangga pun langsung menuju ke rumah Kiki. Mereka bersama-sama membersihkan rumah dan selokan di depan rumah Kiki.

“Beginilah akibatnya kalau membuang sampah sembarangan,” ucap Pak Razak.

Setelah banjir surut, sampah-sampah yang berserakan banyak sekali. Arif dan para tetangga bahu-membahu mengumpulkan sampah yang berserakan.

“Alhamdulillah, akhirnya semuanya bersih,” gumam Arif dalam hati.

Kiki lega dan bahagia rumahnya kini bersih. Ia mengucapkan terima kasih kepada Arif dan para tetangga karena sudah membantu membersihkan rumah dan halamannya.

“Terima kasih ya, Arif. kini rumahku sudah bersih. Dan terima kasih juga kepada bapak-bapak dan ibu-ibu semua,” ucap Kiki.

“Iya sama-sama, Ki. Kita kan tetangga, jadi sudah menjadi kewajiban kami saling membantu,” jawab Arif.

“Jangan membuang sampah di selokan lagi ya, Kiki. Dan selalu bersihkan lingkungan sekitar rumah!” tambah Pak Razak.

“Iya, Pak. Mulai sekarang, Kiki tidak akan membuang sampah di selokan lagi,” jawab Kiki.

Sejak saat itu, Kiki rajin membersihkan rumah dan selokan depan rumah. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Arif senang melihat Kiki sudah berubah. Sekarang Kiki sangat peduli dengan kebersihan rumah dan lingkungannya.

Berikut ini beberapa hadis Nabi saw. tentang kebersihan:

* “Sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari iman.”

* “Sesungguhnya Allah swt maha indah dan mencintai keindahan, Allah swt dermawan dan mencintai kedermawanan, dan Allah swt bersih dan mencintai kebersihan.”

* Bersihkanlah diri kalian semampu kalian, karena Allah swt. mendasarkan Islam di atas kebersihan. Tidak akan masuk surga kecuali setiap orang yang bersih.”

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT