Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pendusta di Zaman Rasulullah Saw

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith diberi wewenang untuk pergi ke pemukiman suku Bani Mushtaliq dan mengumpulkan zakat dari mereka serta membawanya kembali ke Madinah. Ketika penduduk suku itu mendengar wakil Nabi Saw akan datang ke pemukiman mereka, semua orang berbondong-bondong untuk bertemu dan menyambutnya.

Akan tetapi kebencian yang pernah ada dalam diri Walid terhadap suku ini (sebelum datangnya agama Islam) atau karena pemikiran rancu bahwa suku ini datang untuk membunuhnya yang ada dalam benaknya, membuat Walid tidak jadi mengunjungi desa tersebut dan kembali ke Madinah. Dia melapor kepada Nabi Saw bahwa suku Bani Mushtaliq telah menolak ajaran Islam dan tidak bersedia membayar zakat bahkan ingin membunuhnya.

Perhatikan, betapa bahaya laporan yang salah serta info berlebihan yang dapat menyebabkan kerusakan dan kesalahpahaman bagi orang yang tidak bersalah. Umat Islam di Madinah mencapai tahap pemikiran yang mengharuskan mereka memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap suku Bani Mushtaliq. Di saat itu kepala suku Bani Mushtaliq diberitahu ihwal kejadian itu dan segera mengunjungi Nabi Saw dan berkata padanya: “Kami berlindung kepadamu dari murka Allah dan Rasul-Nya. ”

Baca: Sabda Rasulullah Saw tentang Kewajiban Seorang Muslim terhadap Saudaranya

Rasulullah Saw sangat terkejut dan berkata padanya: “Bertobatlah dari apa yang telah kau perbuat dan kembalilah ke ajaran Islam. Jika engkau tidak melakukannya, kami akan mengutus seseorang untuk membantumu, yaitu orang yang hidup dalam jiwaku.”

Pada saat itu beliau meletakkan tangannya di pundak Ali bin Abi Thalib a.s.. Nabi Saw tidak berhenti sampai di situ. Secara diam-diam beliau mengirim seseorang ke Bani Mushtaliq untuk memerhatikan bagaimana mereka memperlakukan urusan agama mereka. Melalui utusan ini beliau menyadari laporan yang dibawa Walid adalah kebohongan. Karena ketika waktunya salat, mereka menjalankan salat serta bersedia membayar zakat. (Al-Kasysyaf, 3/149)

Siapakah Walid?

Walid adalah putra Uqbah bin Abi Mu’ith yang merupakan salah seorang keturunan dari tokoh Bani Umayah yang mendapat kutukan. Dulunya Uqbah adalah seorang musuh Nabi Saw. Ia juga satu dari empat orang yang pernah mengganggu dan menyakiti beliau. Setiap Uqbah bertatap muka dengan Nabi Saw, Uqbah selalu mengucapkan makian. Selain itu, setiap Uqbah melihat beliau dalam keadaan sujud, dia mencoba melakukan hal brutal yang membahayakan. Kebenciannya kepada Nabi Saw sudah sedemikian besar. Ketika Perang Badar Uqbah tewas di tangan kaum Muslimin. Dari sinilah akar kebencian Walid terhadap Islam.

Menurut hukum dalam ayat-ayat Alquran, dia adalah seorang pendosa dan najis karena dendam dan kebencian masa lalu yang dia miliki kepada suku Bani Mushtaliq. Dan karena kecerobohannya sendiri, dia menginginkan darah muslim ditumpahkan. Alquran mengisahkan: “Apakah orang beriman itu sama dengan orang yang fasik?” (QS. al-Sajdah: 81)

Mayoritas mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “orang beriman” dalam ayat ini adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s., sedangkan makna “orang yang fasik [yang melakukan dosa terang-terangan]” adalah Walid.

Ayat ini diturunkan ketika perwujudan iman yang sejati dan kefasikan terang-terangan —yang masing-masing diwakili oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Walid— menerangkan maknanya masing-masing. Walid berbicara dengan bangga (tentang keluarganya) dan membual di hadapan Imam Ali. Namun Imam a.s. menyadari keimanannya yang tulus dan keyakinannya pada Islam sebagai suatu kebanggaan dan kehormatan. Imam a.s. berkata kepada Walid: “Diam kau! Kaulah orang yang hatinya belum dimasuki iman yang benar… ”

Pada saat itulah ayat al-Quran yang menceritakan ihwal kedua orang ini diturunkan. (Tafsir Nahj al-Balaghah, 2/103)

Walid pada masa khalifah ketiga mendapatkan jabatan sebagai pemimpin daerah. Kala itu gubernur juga bertanggung jawab menjadi imam salat jemaah di masjid pusat. Suatu malam Walid meminum khamar dalam jumlah berlebihan. Dalam keadaan mabuk dia pergi ke masjid dan melakukan salat subuh empat rakaat. (Iqd al-Farid, 2/172)

Dan di masa sekarang, penggosip yang paling berbahaya adalah industri percetakan dan penerbitan merupakan salah satu kado paling berharga di era industri. Selain mengurangi biaya percetakan yang tinggi, melalui industri manusia mampu mencetak dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan berbagai cabangnya di seluruh dunia dalam rentang waktu yang sangat singkat. Namun sayangnya industri jugalah yang membahayakan kemanusiaan dengan menyebarnya  kebohongan dan rumor yang memungkinkannya menangguk keuntungan melalui kebohongan dan tipu daya melalui tipu muslihat percetakan.

Baca: Bertawassul Kepada Ahlulbait Rasulullah saw

Belakangan penyebaran rumor, kebohongan yang dibuat-buat, tuduhan dan hal-hal tidak pantas lainnya yang menimpa orang lain, merupakan beberapa misi paling aktif yang digalakkan oleh pers Barat. Berapa banyak orang kehilangan kehormatan dan penghargaan karena laporan yang ceroboh dan laporan yang keliru? Bahkan setelah meminta maaf dan memperbaiki kesalahan di kemudian hari, kesalahan ini tidak pernah dapat diperbaiki. Berapa kali kita melihat sekelompok orang terhormat menjadi korban karena kurangnya komunikasi di kalangan wartawan media?

*Disarikan dari buku Etika Qurani dalam Surah Al-Hujurat – Ayatullah Jafar Subhani

No comments

LEAVE A COMMENT