Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tafsir Ayat Basmallah

Dengan nama Allah Yung Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Penafsiran

Setiap bangsa dan umat, ketika akan mengerjakan perbuatan yang penting dan berat, pada umumnya memulainya dengan menyebut nama seorang pembesar dari tokoh-tokoh mereka. Dan juga, biasanya, peletakan batu pertama untuk sebuah bangunan yang penting dan agung dilakukan dengan menyebut nama seorang pembesar dari mereka. Maka, alangkah baiknya kalau setiap perbuatan dimulai dengan menyebut nama sesuatu yang abadi dan tidak akan fana, agar perbuatan itu manfaatnya lestari dan kekal. Segala yang ada di alam raya ini bergerak menuju kepunahan dan kesirnaan kecuali yang berkaitan dengan Zat Yang Kekal dan Abadi, yaitu Allah Swt.

Kekakayan dan kelestarian adalah sifat yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. Atas dasar itu, segala sesuatu seharusnya didahului dengan menyebut nama-Nya dan meminta bantuan dari-Nya. Oleh karenanya, basmalah adalah ayat-yang pertama kali dalam Alquran.

Basmalah hendaknya tidak terhenti pada lafal dan bentuk lahirnya saja, tetapi hendaknya menembus ke hubungan yang nyata. Hubungan yang nyata ini akan melahirkan cara berpikir yang benar dan menjaganya dari penyimpangan, kemudian akan menghasilkan harapan yang dicari dan diberkati. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Setiap urusan penting yang tidak disebutkan padanya nama Allah, maka akan terputus (baca: tidak diberkati).”

Baca: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 61 tentang Peristiwa Mubahalah

Abdullah bin Yahya bertanya kepada Imam Ali a.s.: “Wahai Amirul Mukminin, apa tafsiran Bismillahirrahminirrahim?”

Beliau menjawab: “Sesungguhnya seorang hamba, jika hendak membaca atau berbuat suatu perbuatan, lalu mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, maka perbuatannya itu akan diberkati.”

Imam Muhammad al-Baqir a.s. berkata: “Mereka telah mencuri ayat yang paling mulia dalam kitab Allah, yaitu Bismillahirrahmanirrahim. Oleh karenanya, hendaknya engkau membacanya di saat memulai segala urusan, besar atau kecil, agar diberkati.”

Ringkasnya, kelanggengan suatu amal tergantung pada hubungan amal itu dengan Allah. Dari sini jelas bahwa ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Saw adalah perintah untuk memulai tugasnya yang besar dengan nama Allah: “Bacalah dengan nama Tuhanmu….” (QS. Al-‘Alaq:  1)

Demikian pula, Nabi Nuh a.s. ketika menaiki perahunya pada waktu air bah datang dengan membawa ombak, beliau meminta kepada para pengikutnya untuk mengulang-ulang basmalah, baik perahu itu tengah diam atau bergerak.

Dan berkata Nuh, “Naiklah ke atas perahu dengan nama Allah, ketika bergerak atau berlabuh.” (QS. Hud: 41)

Akhirnya perjalanan yang berbahaya itu berakhir dengan selamat dan diberkati, seperti yang disinyalir dalam Alquran, Dikatakan, “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dari Kami dan dengan berkat (yang turun) atasmu dan atas orang-orang yang bersamamu.” (QS. Hud: 48)

Juga, Nabi Sulaiman a.s. mengawali suratnya kepada ratu Saba’ dengan basmalah: Sesungguhnya ia dari Sulaiman dan sesungguhya bismillahirrahmanirrahim. (QS. An-Naml: 30)

Baca: Tafsir: Kematian dan Kehidupan dalam Perspektif Al-Quran

Beranjak dari prinsip itu, maka seluruh surah dalam Alquran dimulai dengan basmalah, agar tujuan utama dari semua surah itu terealisasi, yaitu memberi petunjuk kepada umat manusia menuju kebahagiaan. Berbeda dengan kebanyakan surah, surah Taubah tidak dimulai dengan basmalah, karena surah ini diawali dengan pernyataan perang melawan kaum musyrikin Makkah. Pernyataan perang tidak sesuai dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Patut diketahui bahwa ucapan basmalah hanya dengan bentuk “bismillah” saja, dan Anda jangan mengatakan bismi al-Khaliq atau bismi ar-Razzaq atau yang lainnya. Karena, kata “Allah” adalah nama yang meliputi semua nama dan sifat-sifat-Nya. Adapun nama-nama-Nya yang lain, itu hanya menunjuk pada sebagian dari kesempurnaan-Nya, seperti kasih sayang (rahmat) dan penciptaan (al-khaliqiyyah).

Jelas bahwa ucapan “bismillah” pada permulaan setiap perbuatan mempunyai arti “meminta bantuan dari Allah” dan “memulai berbuat dengan nama Allah”. Kedua arti ini mempunyai dasar yang sama. Sebagian mufassir berusaha membedakan antara dua arti tadi dengan asumsi bahwa masing-masing dari keduanya mempunyai kata simpan (muqaddar) yang berbeda. Sebenarnya, kalau pun berbeda, kedua arti itu saling berkaitan (mutalaziman), yakni “aku mulai dengan nama Allah dan aku meminta bantuan dari Allah.”

Sudah barang tentu, memulai dengan nama Allah yang kekuatan-Nya di atas semua kekuatan yang ada akan membangkitkan pada diri kita kekuatan, kemauan, kepercayaan diri, pembelaan, ketabahan, harapan dalam menghadapi kesulitan, keikhlasan, dan kesucian dalam bergerak.

Pernah Imam Ali a.s. menafsirkan ayat basmalah kepada Abdullah bin Abbas, sejak permulaan malam sampai subuh menyingsing, tidak melebihi huruf “ba” dari basmalah. Kita akhiri penafsiran basmalah di sini dengan sebuah hadis dari beliau:

Abdullah bin Yahya datang menghadap Amirul Mukminin a.s. Di hadapan beliau ada sebuah kursi, lalu beliau memerintahnya agar duduk di atasnya. Maka Abdullah duduk di atasnya. Kursi itu bergerak ke samping sehingga Abdullah jatuh tersungkur dan kepalanya terluka karena kepalanya besar, maka darah pun keluar. Lalu Amirul Mukminin menyuruh agar diambilkan air. Beliau membersihkan darah itu, kemudian berkata: “Mendekatlah kepadaku!”

Lalu beliau meletakkan tangannya di atas tempat luka Abdullah seraya berkata: “Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah memberitahuku dari Allah Azza Wajalla bahwa segala urusan penting yang tidak disebutkan padanya bismillah, maka ia terputus (tidak diberkati).”

Baca: Tafsir: Pertanda Lemah Iman

Lalu aku berkata: “Benar. Demi ayahku dan ibuku, aku tidak akan meninggalkannya setelah ini.” Kemudian Imam Ali berkata: “Kalau begitu, kamu beruntung dan bahagia.”

Imam Shadiq a.s. berkata: “Ada kalanya sebagian pengikutku ketika memulai (berbuat) sesuatu meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, lalu Allah mengujinya dengan kesulitan agar dia sadar akan syukur kepada Allah dan memuji-Nya, dan (dengan ujian itu) Allah hendak menghapus kesalahannya karena meninggalkan bismillah.”

 *Disadur dari Kitab Tafsir Al-Amtsal karya Ayatullah Natsir Makarim Syirazy

No comments

LEAVE A COMMENT