Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Antara Tazkiyah dan Aktivitas Sosial (2)

aktivitas-sosialFirman Allah, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi” tidak hanya berarti bahwa bumi adalah tempat turunnya khalifah tanpa ada khalifah itu sendiri di planet ini, melainkan juga berarti bahwa khalifah itu ada bumi dan manusia adalah khalifah itu sehingga manusia harus berusaha memakmurkan bumi, mengelola dan memanfaatkan anugerah yang terkandung di dalamnya.

Dalam rangka ini masing-masing orang dapat berbuat dengan kapasitas dan kemampuannya sehingga manusia yang maksum, misalnya, berperan sebagai khalifah dengan kapasitas yang layak ditaati oleh manusia-manusia lain.

Rasulullah saw bersabda;

مَن أصبح لا يهتمّ بأُمور المسلمين فليس بمسلم.

“Barangsiapa menyambut pagi dalam keadaan tidak peduli kepada urusan Muslimin maka dia bukan Muslim.”[1]

Beliau juga bersabda;

لا رهبانيّة في الإسلام.

“Tak ada kependetaan dalam Islam.”[2]

Rasulullah saw tidak mengajarkan kepada para sahabatnya supaya menjauhi aktivitas sosial dan politik. Sebaliknya, sejak Islam terbit sebagai agama nan cemerlang, beliau memotivasi mereka ikut berpartisipasi dalam perang dan aktivitas politik, sementara mereka juga masih dapat mengisi banyak bagian waktunya untuk menyendiri menghadap Allah SWT. Dalam kesibukan sehari-hari sebagai makhluk yang bersosial, beliau serta para sahabat setianya masih dapat mendirikan shalat malam dan bermunajat di tengah keheningan alam.

Islam tidak menghendaki manusia menjauh dari kehidupan sehari-hari, menjalani kehidupan ala pertapa, dan mengabaikan kenikmatan-kenikmatan yang halal, sebagaimana terlihat dalam beberapa firman Allah SWT sebagai berikut;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ * وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَاتَّقُوا اللّهَ الَّذِي أَنتُم بِهِ  مُؤْمِنُونَ.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.[3]

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ * قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ وَاللَّهُ مَوْلاَكُمْ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[4]

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ. . .

Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik? Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.’”[5]

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا…

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”[6]

Dalam beberapa riwayat juga disebutkan sebagai berikut:

  1. Imam Ali bin Abi Thalib as berkata;

إنّ جماعة من الصحابة كانوا حرّموا على أنفسهم النساء، والإفطار بالنهار، والنوم باللّيل، فأخبرت أمُّ سلمة رسول الله (ص)، فخرج إلى أصحابه، فقال: أترغبون عن النساء؟! إنّي آتي النساء، وآكل بالنهار، وأنام باللّيل، فمن رغب عن سنّتي فليس منّي.

“Sekelompok sahabat pernah mengharamkan atas dirinya menggauli perempuan, makan di siang hari, dan tidur di malam hari. Ummu Salamah lantas memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu beliau mendatangi para sahabatnya dan bersabda; ‘Apakah kalian membenci perempuan? Sungguh aku menggauli perempuan, makan di siang hari, dan tidur di malam hari. Barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan golonganku.” [7]

  1. Imam Jakfar al-Shadiq as berkata;

جاءت امرأة عثمان بن مظعون إلى النبيّ (ص)فقالت: يا رسول الله إنّ عثمان يصوم النهار ويقوم اللّيل. فخرج رسول الله (ص)مغضباً يحمل نعليه حتّى جاء إلى عثمان، فوجده يصلّي، فانصرف عثمان حين رأى رسول الله (ص) فقال له: يا عثمان لم يرسلني الله بالرهبانيّة، ولكن بعثني بالحنيفيّة السمحة أصوم وأُصلّي وألمس أهلي، فمن أحبّ فطرتي فليستنّ بسنّتي، ومن سنّتي النكاح.

“Isteri Usman bin Madh’un mendatangi Nabi saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Usman berpuasa di siang hari dan berjaga di malam hari.’ Rasulullah lantas keluar dengan marah sembari membawa sepasang sendalnya mendatangi Usman dan mendapatinya hendak mendirikan shalat. Usman mengurung shalatnya ketika melihat Rasulullah saw datang. Beliau berkata kepadanya, ‘Wahai Usman, Allah tidak mengutusku untuk (mengajarkan) kependetaan, melainkan mengutusku dengan ajaran yang hanif dan mudah. Aku berpuasa, mendirikan shalat, dan menggauli isteriku. Barangsiapa menyukai fitrahku maka hendaklah membiasakan diri dengan sunnahku, dan di antara sunnahku adalah menikah.”[8]

(bersambung)

[1] Lihat al-Wasa’il, jilid 16, hal. 336 – 337, salah satu Bab “Perbuatan Ma’ruf” (Fi’il al-Ma’ruf).

[2] Safinat al-Bihar, jilid 3 hal. 428, kosakata “rahaba”.

[3] QS. Al-Maidah [5]: 87 – 88.

[4] QS. Al-Tahrim [66]: 1 – 2.

[5] QS. Al-A’raf [7]: 32.

[6] QS. Al-Qashash [28]: 77.

[7] Al-Wasa’il, jilid 20, hal. 21, Bab 2 Mukaddimah Nikah, hadis 9.

[8] Ibid, jilid 20 hal. 106 -107, Bab 48 Mukaddimah Nikah, hadis 1.

No comments

LEAVE A COMMENT