Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Bertawasul kepada Para Kekasih Allah

Tawasul adalah sebuah aktivitas untuk mengambil sarana dan wasilah/ perantara agar doa atau ibadah kita dapat diterima Allah Swt. Dengan bertawasul kita meyakini bahwa mereka (yang dijadikan sarana) hanyalah perantara dan wasilah yang pengaruhnya terjadi hanya dengan izin serta kehendak llahi, sehingga kita dapat memperoleh tujuan yang kita harapkan maka kita tidak keluar dari jalur Tauhid.

Karenanya, tauhid dan syirik itu meliputi dua hal, yaitu dalam keimanannya dan perbuatannya. Apabila keduanya tidak berlawanan dengan kebenaran dan syariat Allah maka itu tidak menyimpang dari Tauhid. Menjalankan kewajiban dan sunah semisal salat, puasa, zakat, dan lainnya, adalah perantara syariat guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. Adapun wasilah maknawi tidaklah terbatas pada perkara-perkara itu.

Baca: Tawasul kepada Nabi saw, Bid’ahkah?

Sebagian dari hal tersebut adalah;

  • Bertawasul dengan nama-nama dan sifat-sifat llahi yang terbaik (asma al-husna). Alquran mengatakan: “Hanya milik Allah asma-ul-husna (nama­nama yang agung yang sesuai dengan sifat Allah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu.” (QS. al-A’raf: 180) Doa-doa yang termaktub dalam riwayat, menunjukkan adanya limpahan tawasul kepada nama-nama dan sifat-sifat llahi yang terbaik.
  • Bertawasul dengan doanya orang-orang saleh. Yang terbaik di kalangan mereka adalah para nabi a.s. dan para kekasih Allah Swt yang khusus.

AIquran yang mulia memerintahkan kepada orang-orang yang menzalimi diri mereka supaya menghampiri Rasulullah saw kemudian meminta ampunan Tuhan, dan demikian pula Rasulullah saw yang memintakan ampunan mereka. Kitab suci Alquran mengabarkan berita gembira bahwa mereka akan menemukan Tuhan sebagai Zat Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa: 64)

Baca: Doa Mujir, Bertawassul Dengan Asma Allah

Dari ayat-ayat suci tersebut dapat dimengerti bahwa kejadian semacam ini juga terjadi pada umat-umat terdahulu. Sebagai contoh, anak-anak Nabi Ya’qub a.s. meminta kepada ayah mereka supaya memohon ampunan Tuhan untuk mereka. Nabi Ya’qub a.s.pun menerima permintaan mereka dan berjanji untuk memintakan ampunan.

“Dikatakan mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Ya’qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 97-98)

Kita berkeyakinan bahwa para nabi a.s. dan para wali Ilahi hidup dengan kehidupan alam barzah. Allah Swt dengan gamblang menjelaskan dalam firman-Nya bahwa para syahid di jalan kebenaran itu mereka hidup, dan para nabi a.s. beserta para wali llahi, yang kebanyakan dari mereka adalah syahid dan mempunyai kedudukan lebih mulia, tentu mendapatkan kehidupan yang lebih istimewa.

Demikian juga ketika melihat fakta bahwa semua Muslim menghaturkan salam kepada Rasulullah saw di penghujung salat, dengan mengucapkan “Assalamu ‘alaika ayyuhan-Nabi wa rahmatullahi wa barokatuhu.” Apakah yang disampaikan kepada Rasulullah saw tersebut adalah perbuatan yang main-main dan pribadi mulia Rasulullah saw tidak mendengar salam itu serta tidak menjawabnya?

Baca: Munajat Imam Ali Bin Abi Thalib as.

Tidak diragukan bahwa Rasulullah saw hidup di alam barzah dan mendengar semua salam yang dihaturkan dan beliau juga menjawabnya. Selain itu, dalil aqli juga memberikan hujah kuat atas kekekalan ruh manusia yang mana ruh tersebut adalah hakikat dari manusia.

*Dikutip dari buku Panorama Pemikiran Islam – Ayatullah Ja’far Subhani


No comments

LEAVE A COMMENT