Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Kehati-hatian Karena Takut Kepada Allah SWT

Allah SWT berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَ نَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ * أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ.

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”[1]

Dalam ayat suci al-Quran ini terlihat bahwa kehati-hatian (isyfaq) merupakan akibat dari rasa takut (khasyyah), karena ungkapannya ialah “sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan” sehingga keberhati-hatian berpangkal pada rasa takut.

Apakah yang dimaksud dengan khasyyah; takut semata atau takut yang dibarengi dengan takzim kepada Allah SWT? Isyfaq berasal dari kata syafaqah (kasih sayang) sehingga padanya terkandung makna kasih sayang dan kelembutan hati atau kegalauan dan keguncangan jiwa. Contohnya adalah kasih sayang kepada anak kecil. Jadi, karena takut kepada Allah SWT seorang mukmin menjadi begitu sayang kepada dirinya, atau gelisah dan guncang yang disertai kasih sayang kepada dirinya.

Menariknya, isyfaq dalam al-Quran juga dinisbat kepada para malaikat meskipun mereka tidak memiliki hawa nafsu sehingga tidak tergelincir kepada maksiat. Allah SWT berfirman;

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمنُ وَلَداً سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ * لاَ يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ * يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ.

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (para malaikat), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”[2]

Kehati-hatian pada kebanyakan orang merupakan kewaspadaan agar jiwanya tidak menyimpang, amal perbuatannya tidak sia-sia, dan kelak tidak mendapat siksa di akhirat. Sedangkan kehati-hatian pada kalangan khusus ialah kewaspadaan agar kalbunya tetap bersama Allah, dan tidak tersentuh oleh faktor-faktor aksidental yang menjauhkannya dari Sang Kekasih.

Namun demikian, kewaspadaan dalam pengertiannya yang kedua dan yang ada di kalangan khusus ini tidak lantas menegasikan adanya kehati-hatian dalam maknanya yang pertama pada mereka. Kehati-hatian dalam pengertiannya yang pertama itu juga ada pada mereka. Ayat suci al-Quran menyebutkan bahwa isyfaq juga ada dalam diri para wali Allah dan para muqarrabin (orang-orang yang didekatkan kepadaNya). Allah SWT berfirman;

إِلاَّ الْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ دَائِمُونَ * وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ * للسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ * وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ * وَالَّذِينَ هُم مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ * إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُون.

“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang berhati-hati (karena takut) terhadap azab Tuhannya, karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).”[3]

Ayat-ayat ini bisa jadi mencakup para insan maksum dalam pengertian bahwa mereka takut terjatuh dari kedudukannya sebagai maksum, dan bahwa kemaksuman mereka akan tetap bertahan selagi rasa takut dan isyfaq tetap ada dalam diri mereka. Atau ayat-ayat ini setidaknya mencakup semua manusia non-maksum setinggi apapun jenjang keruhanian dan kesempurnaan yang mereka capai.

[1] QS. Al-Mukminun [23]: 57 -61.

[2] QS. Al-Anbiya’ [21]: 26 -28.

[3] QS. Al-Ma’arij [70]: 22-28. Tiga ayat sebelumnya berbunyi;

إنَّ الإنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً * إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً * وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعا.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.”

No comments

LEAVE A COMMENT