Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Membentuk Jiwa Bertanggung Jawab pada Anak

Dewasa ini, kita banyak menyaksikan sejumlah orang yang berusaha melepaskan tanggung jawab dirinya agar terbebas dari beban pikiran dan lolos dari tuntutan kegiatan. Mereka enggan meniti jalan yang dapat dianggap menyusahkan hidupnya. Untuk lari dari tanggung jawab terdiri dari berbagai bentuk. Biasanya, itu diupayakan dengan menyertakan sejumlah argumentasi yang dianggapnya cukup memuaskan dan masuk akal.

Sebagian orang lari dari tanggung jawab dengan alasan bahwa kondisi untuk memikulnya tidaklah memungkinkan. Sebagian lagi beralasan bahwa tidak baik melakukan dan mengemban tanggung jawab pada masa sekarang. Sementara, sebagian lainnya mengedepankan alasan bahwa usaha dan jerih payah yang ditempuh selama ini tidak membuahkan hasil apapun.

Intinya, mereka berhasrat untuk melepaskan diri dari tanggung jawab. Padahal, orang yang berpengetahuan mustahil mampu memisahkan diri dari tanggung jawab, sekali pun dengan mengemukakan alasan sebagaimana yang telah disebutkan.

Baca: Tahapan Mendidik Anak ala Islam

Kecenderungan untuk lari dari tanggung jawab kian hari kian meluas. Bahkan menjangkiti pula kalangan orang tua sekaitan dengan bidang pendidikan. Jelas, tidak dapat disebut sebagai ayah dan ibu apabila para orang tua mengabaikan tanggung jawab pendidikan anak-anaknya.

Kebanyakan orang tua mencampuradukkan masalah keselamatan dan kekurangan anak-anaknya. Ya, mereka mengira bahwa kekurangan fisik identik dengan kekurangan. Pada saat yang sama, mereka tidak memperhatikan sama sekali kekurangan akhlak dan mental anak-anaknya. Apabila melihat anaknya cacat dan lemah secara fisik (misal, tak punya tangan atau kaki, atau buta-tuli), niscaya seorang ibu akan sangat berduka. Namun, ia tidak sedih sewaktu anaknya tidak bertanggung jawab atau berperilaku menyimpang dari norma-norma akhlak. Justru, inilah yang seharusnya disedihkan. Sungguh sang ibu telah keliru dalam memahami dan menilai kenyataan.

Dalam sudut pandang Islam, kehidupan tak lain dari tugas yang dibebankan di pundak seseorang terhadap orang lain yang mustahil dielakkan. Dengan memahami bahwa kehidupan merupakan sebuah tugas, niscaya seseorang akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat; tidak akan menempuh kesesatan dan tidak pernah dikecamuk keresahan di saat hidup miskin dan kesusahan, tidak pantang menyerah dalam menghadapi segenap kesulitan, dan tidak pernah tersungkur di hadapan hantaman musibah dan problematika hidup.

Kehidupan adalah tugas. Karenanya, usaha seseorang akan senantiasa disesuaikan dengan tujuannya serta menjadikannya siap menjaga amanat yang sesungguhnya menyulitkan hidupnya. Ia akan lebih memprioritaskan kehidupan yang mulia ketimbang tunduk di hadapan segala bentuk perbudakan.

Baca: Peran Ibu Menjadikan Anak-anaknya Bahagia

Tanggung jawab lahir dari anggapan bahwa kehidupan ini merupakan sebuah tugas yang harus diemban. Saat itu, makna kebahagiaan dan kesuksesan melaksanakan tugas dan tanggung jawab dapat dihayati. Terdapat dua hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menumbuhkan jiwa bertanggung jawab.

  1. Pelajaran-pelajaran yang berkenaan dengan tanggung jawab merupakan hasil usaha dan rahasia dari diutusnya para rasul yang menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi demi menggugah umat manusia agar mau menjalankan tugasnya.
  2. Menjalankan tanggung jawab membutuhkan usaha ekstra keras yang berkelanjutan. Seseorang tidak begitu saja terlepas dari tanggung jawab sekalipun telah menjalankannya selama sehari atau beberapa hari.

Bentuk-bentuk Tanggung Jawab

Bentuk tanggung jawab seperti apa yang harus diajarkan kepada anak-anak kita? Untuk menjawab pertanyan ini, kita harus mengetahui manusia seperti apakah yang diperlukan masyarakat pada masa sekarang dan masa depan berdasarkan pandangan Islam. Demi membentuk masyarakat yang manusiawi, kita tentu butuh pada manusia yang minimal memiliki keutamaan-keutamaan individual sebagai berikut:

  1. Memahami diri dan kapasitasnya.
  2. Mencintai dan menghormati diri serta kepribadiannya.
  3. Mengetahui jalan yang akan menghantarkannya padakehidupan yang mulia serta selalu menjauh dari kehidupanfoya-foya.
  4. Berdiri di atas kakinya sendiri, bukan kaki orang lain.
  5. Menanggung sendiri kesulitan hidupnya.
  6. Menganggap dirinya bertanggung jawab demi menjagakemerdekaan, kemuliaan, dan keyakinannya.
  7. Mengetahui dan menaati undang-undang.
  8. Siap membela dan berjuang demi meraih tujuannya yang
  9. Tidak meremehkan kewajibannya.
  10. Tidak berlebihan dalam berpikir dan beramal.
  11. Mengontrol pembicaraan dan menepati janji-janjinya.
  12. Terlebih dahulu berpikir sebelum mengatakan “Ya”, sertamemegang teguh ucapannya walaupun harus denganmengorbankan jiwanya.
  13. Menyandang nilai-nilai (positif), rela berkorban, memilikikepekaan, dan berhati mulia.

Selain di atas, manusia yang dimaksud juga harus menyandang ciri-ciri luhur secara sosial sebagai berikut:

  1. Memahami kondisi dan nilai masyarakat.
  2. Memikirkan, menjaga, dan menghormati kepribadian orang
  3. Bertanggung jawab dan siap melaksanakan (tanggung jawabnya) di hadapan
  4. Senantiasa memenuhi tugas dan tanggung jawab agamaserta sosialnya.
  5. Menempuhjalan yang digariskan pemimpinnya.
  6. Ikut merasakan (bersikap empati terhadap) penderitaanmasyarakat, seperti kemiskinan, kelaparan, dan kerusakan.
  7. Menganggap dirinya sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat.
  8. Bertanggung jawab terhadap kebebasan, kebaikan, dankesetiaan masyarakat.
  9. Menjadi teman yang baik dan setia, pekerja yang giat, sertapengikut yang taat.
  10. Menjadi sahabat seluruh umat manusia dan saudara seluruhkaum M

*Dikutip dari buku karya Dr. Ali Qaimi – Mengajarkan Keberanian pada Anak


No comments

LEAVE A COMMENT