Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pengukuhan Kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib di Ghadir Khum (1)

Pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, telah membuat kepentingan Islam dan umat sangat membutuhkan figur seorang pemimpin yang berkualitas dan memiliki sifat mulia; seorang pemimpin yang dikaruniai pengetahuan yang luas dan kesalehan yang mendalam, yang mesti mengemban tugas untuk mengatur gerakan Islam yang saat itu masih berusia muda dan masih memerlukan keberlangsungan risalah. Ini diperlukan untuk menjamin keberlangsungan Islam, untuk menyelamatkannya dari penyimpangan.

Menyerahkan persoalan kepemimpinan kepada masyarakat yang baru saja beranjak dari segala kotoran dan keyakinan jahiliah yang belum sepenuhnya terhapus dari semangat dan jiwanya, tidak akan mampu menyelamatkan tujuan-tujuan mulia Nabi Muhammad Saw ataupun melindungi agama dari bahaya kekuatan-kekuatan buruk.

Dengan begitu, satu-satunya jalan adalah dengan kebutuhan akan seseorang yang memiliki kepribadian mulia, yang paham semua persoalan tentang risalah, yang dilengkapi dengan kecerdasan dan pengetahuan agama yang luas, yang memiliki keyakinan kokoh dan terjaga dari dosa sebagaimana Nabi Saw; orang itu harus memegang kendali atas semua urusan untuk mengurus dengan penuh perhatian dan penuh kasih sayang tugas membimbing dan mendidik manusia, serta memecahkan pelbagai persoalan dan urusan tentang syariat yang akan dihadapinya pada masa pemerintahannya.

Baca: Al-Ghadir: “Hari Ini Aku Sempurnakan Agamamu”

Bukti sejarah menunjukkan bahwa saat kembali dari Haji Wada, Rasulullah Saw memenuhi kebutuhan ini, yaitu pada hari ke-18 bulan Zulhijah dengan menetapkan pewaris dan penggantinya sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan demikian beliau Saw telah menunjukkan kepada umat, suatu jalan agar diikuti untuk mencapai kebahagiaan.

Pada tahun ke-10 Hijriah, yang merupakan tahun terakhir kehidupan Nabi Muhammad Saw, beliau memutuskan untuk berpartisipasi dalam perhelatan akbar yang diselenggarakan di Mekah. Beliau Saw berangkat menuju Kabah. Sementara kaum Muslim yang berasal dari wilayah yang dekat maupun yang jauh berangkat menuju Madinah agar memperoleh kehormatan melakukan perjalanan bersama beliau, untuk belajar ritual haji darinya, dan melaksanakan ritual Islam yang besar itu.

Akhirnya kafilah dengan jumlah besar itu berangkat, terdiri dari sahabat Muhajirin dan Anshar serta sahabat lain. Mereka meninggalkan Madinah untuk mengikuti pemimpin mereka berjalan menuju Mekah. Setelah memasuki kota itu, mereka memulai aktivitas ibadah di Kabah. Selama hari-hari itu, kota Mekah menyaksikan salah satu upacara ritual Islam yang paling mulia, yang dilaksanakan oleh ribuan umat Islam yang berkumpul mengelilingi pemimpin mereka laksana gelombang lautan yang bergemuruh. Nabi Saw merasa bangga di hadapan Tuhannya, bahwa pada hari itu dirinya mampu menyaksikan hasil dari usaha dan kerja kerasnya.

Setelah haji itu selesai dikenal dengan nama Hajj Wada (Haji Perpisahan) Nabi Saw meninggalkan Baitullah bersama rombongan para sahabat. Jumlah mereka menurut para sejarawan antara 90.000 sampai 120.000 orang. Kemudian mereka bersiap kembali ke Madinah. Rombongan itu melewati beberapa lembah dan sampai di dataran tandus yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. (Ibnu Katsir, al-Bidayah, 5/209)

Pada saat itulah kemudian malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw dan memerintahkan kepadanya untuk berhenti. Nabi Saw pun menghentikan rombongan, dan menunggu anggota rombongan lain yang masih belum sampai. Instruksi Nabi Saw secara mendadak di dataran tandus, di bawah terik matahari, membuat para pejalan yang kelelahan merasa heran, namun tak lama kemudian malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu. Jibril a.s. menyampaikan pesan langit kepada Nabi Saw, perintah penegasan dan nyata dari Sang Pencipta bahwa Nabi Saw harus menunjuk dan mengumumkan pewaris dan penggantinya:

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan [apa yang diperintahkan itu, berarti] kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. al-Maidah: 67)

Baca: Kisah Perjalanan ke Ghadir

Memperhatikan secara seksama isi ayat di atas, menunjukkan kepada kita nilai kebenaran, yang menyatakan pesan Tuhan tersebut demikian penting dan mendalam, sehingga jika Nabi saw tidak mau menyampaikannya, maka itu sama halnya dengan keengganan Nabi Saw untuk memenuhi seluruh misi kenabiannya. Dalam ayat di atas, Nabi Muhammad Saw diperingatkan akan pentingnya tugas besar yang telah ditetapkan baginya, dan beliau dijamin akan dilindungi dari bahaya apa pun yang mungkin terjadi akibat dari menyampaikan pesan itu.

Bersambung…

No comments

LEAVE A COMMENT