Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Pengertian Seputar Kata Wali, Maula, dan Wilayah

Tidak ada seorang ulama pun yang ragu tentang sejarah Ghadir Khum. Hadis mutawatir ini pun telah diriwayatkan oleh perawi mazhab Sunni sebanyak 150 perawi yang sahih. Bahkan murid-murid Ibnu Taimiyah seperti Dzahabi dan Ibnu Katsir yang telah memperlihatkan kebenciannya kepada Syiah, menegaskan bahwa hadis Ghadir Khum itu mutawatir dan otentik (sahih). Akan tetapi, ada orang-orang yang berusaha menafsirkan hadis ini dengan cara lain. Mereka secara khusus berusaha menerjemahkan kata wali (pemimpin/penjaga), maula (pemimpin/pembimbing), dan wilayah (kepemimpinan/penjaga/bimbingan) dengan artian sahabat dan persahabatan.

Tiada keraguan sedikit pun bahwa Ali memiliki kedudukan sebagai laki-laki pertama yang memeluk Islam. Ia mendapat panggilan saudara Rasul. Dialah yang oleh Rasulullah dinyatakan, “Mencintai Ali adalah bukti keimanan dan memusuhi Ali adalah bukti kemunafikan.”

Oleh karenanya, tampak tidak logis, Rasul menahan lebih dari 100.000 orang di tempat yang sangat tak tertahankan panasnya, dan membuat mereka menunggu dalam keadaan demikian hingga orang-orang yang masih berada di belakang tiba di tempat itu, dan kemudian menyampaikan bahwa, Ali adalah sahabat orang-orang beriman.

Baca: Jalan Meraih Kezuhudan dan Ketakwaan

Lebih jauh lagi, bagaimana kita membenarkan turunnya surah al-Maidah ayat 67 yang diturunkan sebelum khotbah Nabi Saw: “Hai Rasulullah, sampaikanlah apa yang telah di turunkan kepadamu dari Tuhanmu; Jika engkau tidak melakukannya, engkau tidak menyampaikan sama sekali ayat-ayat-Nya; Dan Allah akan melindungi engkau dari orang-orang.”

Masuk akalkah untuk menyatakan bahwa ketika Allah memperingatkan Nabi Muhammad Saw dianggap telah menyia-nyiakan apa yang telah ia perjuangkan apabila ia tidak menyampaikan pesan “sahabat Ali”? Dan bahaya apa yang Nabi Muhammad bayangkan jika ia menyatakan Ali adalah sahabat kaum beriman? Menurut ayat tersebut di atas, bahaya apa yang akan muncul dari orang-orang?

Lebih jauh, bagaimana kalimat Ali adalah sahabat orang-orang beriman dapat menyempurnakan agama Islam? Apakah ayat mengenai kesempurnaan agama Islam (QS. al-Maidah: 3) yang turun  setelah Rasul berkhotbah menyiratkan bahwa tanpa berkata: “Ali adalah sahabat orang-orang beriman”, maka agama Islam belum sempurna?

Selain itu, para sahabat seperti Umar dan Abu Bakar memberi ucapan selamat kepada Ali, dengan berkata: “Selamat, wahai putra Abu Thalib. Hari engkau menjadi Maula seluruh orang-orang beriman baik laki-laki maupun perempuan.”

Apabila, kata maula di sini bermakna sahabat, mengapa ada ucapan selamat? Apakah Ali musuh orang-orang beriman sebelum saat itu sehingga Umar berkata bahwa saat ini engkau menjadi sahabat mereka?

Sebenarnya, setiap wali adalah seorang sahabat, namun seorang sahabat belum tentu seorang wali. Itulah mengapa orang-orang Arab menggunakan kata-kata wali al-Amr untuk sebutan penguasa, yang artinya pemimpin atas segala urusan. Maka logisnya, kata maula tidak dapat diartikan sebagai sahabat, dan kita harus menggunakan kata lain yang sering digunakan, yakni pemimpin dan wali.

Mungkin orang akan bertanya mengapa Nabi Muhammad Saw tidak menggunakan kata lain untuk lebih menjelaskan maksudnya. Sebenarnya, orang saat itu pun bertanya padanya dengan pertanyaan yang sama. Riwayat berikut ini merupakan jawaban Nabi Muhammad Saw:

1) Ketika Rasulullah ditanya mengenai arti dari kalimat, “Barang siapa yang mengangkat aku sebagai Maulanya, Ali adalah Maulanya pula.” Beliau Saw bersabda: “Allah adalah Maulaku, Ia lebih berhak atas diriku sendiri dan aku tidak membantah-Nya. Aku adalah Maula orang-orang beriman. Aku lebih berhak daripada diri mereka sendiri dan mereka tidak membantahku. Maka, barang siapa yang mengangkatku sebagai maulanya, aku lebih berhak daripada diri mereka dan tidak membantahku, Ali adalah maulanya, dan ia berhak atas diri mereka dari pada diri mereka sendiri dan ia tidak membantahnya.” (Shahih at-Turmudzi, 5/642; Musnad Ahmad ibn Hanbal, 4/317; Mustadrak Hakim, 3/111)

2) Selama masa kekhalifahan Utsman, Imam Ali memprotes dengan mengingatkan orang-orang kepada hadis Nabi. Demikian juga, ia mengingatkan mereka kembali pada perang Shiffin. Ketika Rasulullah berbicara hadis Ghadir, Salman berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah, apa artinya walaa, dan bagaimana?” Rasul menjawab, “Walaa artinya aku adalah Wali (wala’un kawala’i). Barang siapa menganggapku sebagai  maulanya, aku lebih berhak atas dirinya dan pada dirinya sendiri, dan Ali lebih berhak atas dirinya daripada dirinya sendiri.” (Shahih at-Turmudzi, 5/363; Sirah ibn Hisyam, hal. 504)

3) Imam Ali bin Abi Thalib ditanya tentang ucapan Nabi Muhammad, “Barang siapa mengangkatku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya.” Maka beliau a.s. menjawab: “Ia mengangkatku menjadi pemimpin (‘alaman). Pada saat aku menjadi pemimpin, siapa saja yang menentangku maka ia telah tersesat (tersesat dalam agamanya).” (Shahih Muslim, 1/8; Shahih at-Turmudzi, 5/643, Sunan ibn Majah, 1/142; Musnad Ahmad ibn Hanbal, 1/84,95,128)

4) Pada tafsiran ayat: “Dan hentikanlah mereka, mereka harus ditanya” (QS. as-Shaffat : 24), Dailami meriwayatkan bahwa Abu Said Khudri berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Dan hentikanlah mereka, mereka akan ditanya mengenai wilayah Ali.” Selain itu, Hafizh Wahidi menafsirkan ayat di atas: “Wilayah yang Rasulullah serahkan kepada Ali akan ditanyakan pada hari pembalasan.” Dinyatakan bahwa wilayah-lah yang Allah maksud dalam Surah as-Shaffat ayat 24, “Dan hentikanlah mereka, mereka harus ditanya.” Artinya bahwa mereka akan ditanya tentang wilayah Ali, apakah mereka benar­benar menerimanya sebagai wali mereka sebagaimana yang Nabi Muhammad perintahkan kepada mereka atau apakah mereka akan berpaling darinya. (Syam al-Akhbar, hal. 38)

Para mufasir yang tidak terhitung jumlahnya, ahli bahasa Arab, dan ahli sastra, telah menafsirkan arti kata maula dengan aula yang artinya memiliki kekuasaan yang lebih banyak.

Dengan demikian kata wali atau maula dalam hadis Ghadir Khum artinya bukan sahabat, tetapi pemimpin dan wali yang memiliki banyak hak atas orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad. Sedikitnya 64 perawi hadis Sunni telah mengutip pernyataan Nabi Muhammad tersebut, di antara mereka adalah Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal.

Oleh karenanya pendapat para ulama Sunni di atas sesuai dengan apa yang Nabi Muhammad katakan dengan kata aula sebelum kata maula. Sebenarnya, ketika sebuah kata memiliki makna lebih dari satu, cara terbaik mencari konotasinya yang benar adalah memperhatikan hubungannya (qariah) dengan konteksnya. Kata awala (mempunyai banyak kekuasaan) yang digunakan Nabi Muhammad memberikan sebuah konotasi yang baik untuk kata maula.

Perlu disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw menggunakan istilah khalifah juga dalam khotbahnya di Ghadir khum, tetapi kata ini tidak muncul pada mayoritas catatan sejarah karena tidak ada cara merusak makna kata tersebut. Nabi Muhammad ketika menggunakan kata maula dalam khotbahnya adalah untuk menghidupkan peristiwa ini agar tidak dihapuskan dari catatan sejarah tanpa meninggalkan jejak.

Menariknya, kata wali dan maula juga sering di gunakan dalam Alquran dengan arti pemimpin atau wali, contohnya: “Allah adalah wali orang-orang yang beriman; ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (dan membawa mereka) kepada cahaya” (QS. al-Baqarah : 257).

Baca: Rahasia atas Buah Kecintaan kepada Ahlulbait

Dalam ayat lain Allah bersabda: “Sesungguhnya Aulia Allah tidak memiliki rasa takut ataupun duka cita.” (QS. Yunus: 62)

Kata aulia adalah bentuk jamak dari kata wali. Ayat di atas tidak berarti bahwa siapa pun yang menjadi sahabat Allah tidak merasa takut. Banyak kaum Muslimin yang merasa takut pada beberapa kejadian dalam hidup mereka padahal mereka bukan musuh Allah. Dengan demikian ayat di atas memberi arti tidak sekadar sahabat.

*Disarikan dari buku Antologi Islam – Tim Al-Huda

No comments

LEAVE A COMMENT