Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Rukun dan Syarat Taubat (4/6)

Hadis sahih lain yang menunjukkan kelapangan waktu taubat, betapapun kesegeraan bertaubat merupakan kewajiban, ialah riwayat dari Muhammad bin Muslim bahwa Imam Abu Jakfar alias Imam Muhammad al-Baqir as berkata kepadanya;

يا محمّد بن مسلم ذنوب المؤمن إذا تاب منها مغفورة له، فليعمل المؤمن لما يستأنف بعد التوبة والمغفرة، أما والله إنّها ليست إلاّ لأهل الإيمان.

“Wahai Muhammad bin Muslim, dosa orang yang beriman diampuni jika dia bertaubat, maka dia hendaknya beramal (baik) untuk masa mendatang sesudah taubat dan ampunan. Demi Allah, (keutamaan) ini hanyalah untuk orang yang beriman.” (Baca sebelumnya: Rukun dan Syarat Taubat-3)

Muhammad bin Muslim  bertanya, “Bagaimana jika sesudah taubat dan istighfar dia masih berbuat dosa lagi lalu bertaubat lagi?”  Beliau balik bertanya;

يا محمّد بن مسلم أترى العبد المؤمن يندم على ذنبه ويستغفر منه ويتوب ثُمّ لا يقبل الله توبته؟

“Wahai Muhammad bin Muslim, apakah kamu mengira bahwa hamba mukmin yang menyesali dosanya, memohon ampunan atasnya, dan bertaubat, lalu Allah tidak menerima taubatnya?”

Muhammad bertanya lagi, “Bukankah dia berbuat demikian berulang kali, berdosa lalu bertaubat dan memohon ampunan?”

Beliau menjawab;

كلّما عاد المؤمن بالاستغفار والتوبة عاد الله عليه بالمغفرة، وإنّ الله غفور رحيم يقبل التوبة ويعفو عن السيّئات، فإيّاك أن تقنّط المؤمنين من رحمة الله.

“Setiap kali seorang mukmin memohon ampunan dan bertaubat, Allah selalu kembali mengampuninya, dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menerima taubat dan mengampuni keburukan, maka janganlah kamu membuat orang-orang yang beriman berputus asa dari mendapatkan kasih sayang Allah.”[1]

Taubat diterima dengan syarat dilakukan sebelum sekarat bisa jadi karena dua faktor sebagai berikut;

Pertama, keimanan yang berguna adalah keimanan kepada yang gaib, adapun keimanan kepada apa yang sudah nampak dan disaksikan tentu saja tak bernilai, karena percaya kepada apa yang sudah disaksikan sendiri secara nyata adalah perkara yang mudah dan bisa terjadi pada siapapun. Keberhasilan lulus dari ujian dalam hidup ini ialah keimanan dan kepatuhan kepada yang gaib atau tidak yang nampak. (Baca: Menjaga Kehormatan di Sisi Allah-1)

Karena itu Allah SWT berfirman;

الم * ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدىً لِّلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ …

Alif laam miin, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,…”[2]

Adapun ketika kematian sudah datang menjemput seseorang lalu dimensi akhirat terlihat nyata di depannya maka apa yang gaib praktis berubah menjadi sesuatu yang terlihat nyata, dan ketika itulah keimanan dan taubat menjadi tak bernilai lagi. Bisa jadi, ini pula sebab mengapa Allah SWT berfirman;

وَقَالُوا لَوْلا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكاً لَّقُضِيَ الأمْرُ ثُمَّ لاَ يُنظَرُونَ.

Dan mereka berkata: Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) malaikat? dan kalau Kami turunkan (kepadanya) malaikat, tentulah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).[3]

Ayat ini mengisyaratkan bahwa turunnya malaikat yang notabene bagian dari alam gaib merupakan perubahan dari hal gaib kepada hal nyata sehingga terhentilah jeda dan selesailah perkara. (Baca: Kado Syair Hari Al-Ghadir)

Allah SWT juga berfirman;

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ * لَّوْ مَا تَأْتِينَا بِالْمَلائِكَةِ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ * مَا نُنَزِّلُ الْمَلائِكَةَ إلاَّ بِالحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذاً مُّنظَرِينَ.

Mereka berkata: Hai orang yang diturunkan AlQuran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar? Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh.[4]

Kedua, dibukanya pintu taubat bukan berarti bahwa orang yang bertaubat tidak layak lagi untuk dihukum atas maksiatnya. Orang yang bermaksiat adalah orang yang melanggar hak, dan orang orang yang melanggar tetap layak dihukum meskipun sudah bertaubat. Gambarannya ialah seperti pelaku pembunuhan yang kemudian menyesal dan bertaubat atas perbuatannya. Taubat ini tidak lantas menggugurkan hak keluarga korban untuk menerapkan hukuman qisas terhadapnya. (Baca: Pengorbanan-1)

Nah, orang yang melanggar hak Allah SWT juga demikian, layak mendapat siksa dan taubatnya tidak lantas menggugurkan kelayakannya untuk dihukum. Sebaliknya, dibukanya pintu taubat ialah bahwa Allah SWT menghendaki pelaku maksiat agar “dihukum” dengan bersusah payah memperbaiki diri dan membersihkan jiwanya dari noda maksiat. Dengan kata lain, jika seseorang bertaubat maka jiwanya harus bersih dan kembali kepada kejernihan fitrah agar taubatnya diterima. Taubat haruslah berupa perubahan diri dalam bentuknya yang hakiki, dan ini tidak mungkin terjadi ketika taubat disebabkan semata-mata oleh keputus asaan ketika sudah menghadapi kebinasaan.

(Bersambung)

[1] Al-Wasa’il, jilid 16, hal. 79 – 80, Bab 89 Jihad al-Nafs, hadis 1.

[2] QS. Al-Baqarah [2]: 1-3.

[3] QS. Al-An’am [6]: 8.

[4] QS. Al-Hijr [15]: 6-8.

Baca selanjutnya: Rukun dan Syarat Taubat (5)

 

No comments

LEAVE A COMMENT