Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Tingkat Ma’rifat (2)

Ma'rifat“Kesempurnaan mengenal Allah adalah mempercayai-Nya.”(1)

Ma’rifat di pembahasan lalu yang dikatakan oleh Sayidina Ali sebagai awal agama, adalah fitrah manusia. Bahwa ia mengenal Allah dari sejak awal penciptaannya, yang disebut dengan ma’rifat ijmali (bersifat global). Ialah mengisyaratkan pada pengetahuan tanpa pembuktian. (Baca sebelumnya: Tingkat Ma’rifat-1)

Dikatakan fitrah, artinya bahwa pengetahuan ini natural, bukan yang diusahakan dan takkan berubah adanya sampai kapanpun dan di manapun. Lalu ketika dihubungkan pada kenyataan, di sana terdapat sebagian manusia yang tidak percaya Tuhan. Sampai Syahid Mutahari, membuat pertanyaan: manusia itu monoteis, ataukah materialis?

Justru Kita yang Mempertanyakan Mereka

kesempurnaan ma'rifatBeliau mengatakan, materialisme adalah perkara yang kontra fitrah manusia. Hingga dikatakan, bahwa cenderung materialis itu tidak normal atau sebuah kelainan. Sedangkan percaya Tuhan adalah normal, karena selaras dengan naturalitas sistem penciptaan. Lantas, apa sebab mereka mengidap “penyakit” ini?

Kaum materialis pun bertanya hal yang sama, mengapa orang-orang cenderung percaya tuhan atau beragama? Yang beragama menjawab, kecenderungan pada agama tidak butuh pertanyaan itu. Karena sudah fitrah manusia dalam demikian, dan fitrah itu tidak butuh pengakuan. Justru “orang waras” lah yang mempertanyakan mereka, mengapa mereka bisa “sakit” kecenderungan tidak beragama? (Baca: Apakah Agama Sumber Pertikaian?-3)

Demi menghemat tempat, semoga cukup dengan menyinggung -secara ringkas- salah satu faktor yang menyebabkan penyimpangan tersebut. Ialah peran gereja (pada abad-abad pertengahan), dengan sekumpulan konsep mentahnya tentang Tuhan. Misalnya, menggambarkan Tuhan seperti manusia. Di samping berupa tindakan-tindakan buruk mereka, sehingga orang-orang menjauhi gereja, dan bahkan agama.(2)

2-Ma’rifat Tafshiliyah

Bagian akhir di pembahasan yang lalu mengisyaratkan pada, bahwa manusia tidak cukup dengan hanya berfitrah mengenal Tuhannya. Terlebih fitrah ini pada sebagian manusia menguat dan pada sebagian yang lain melemah. Dengan kata lain, mengalami timbul tenggelam sebagai dampak dari keberpalingan manusia kepada Allah dan kepada selain-Nya.

Allah swt berfirman: “Dia-lah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, tiba-tiba datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan dengan tulus hati (sembari berkata), “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS: Yunus 22)(3)

Oleh karena itu, manusia di samping berma’rifat global harus mencapai ma’rifat yang lebih sempurna. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayidina Ali –salamullah ‘alaih: “Kesempurnaan mengenal Allah ialah mempercayai-Nya.” (Baca: Bagaimana Alquran Mengajarkan Manajemen Stres? -1)

Pengetahuan Berbeda dengan Keyakinan

Ma’rifat ini oleh Syekh Makarim Syirazi disebut dengan ma’rifat tafshiliyah. Ialah dengan tashdîq (ekstensi) atau merupakan pengetahuan dengan pembuktian. Ma’rifat ini mengisyaratkan pada keimanan kepada Allah swt. Karena, pengetahuan itu sendiri berbeda dengan keyakinan.(4)

Barangkali keyakinan inilah yang terdapat dalam definisi agama dari Syekh Misbah Yazdi, bahwa dîn (agama) adalah iman kepada Sang Pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang (diyakini berasal dari-Nya atau) sesuai dengan keimanan itu.

Lalu beliau menambahkan: “Istilah mutadayyin (yang beragama), secara umum ditujukan kepada orang yang percaya pada Sumber Wujud, Sang Pencipta alam semesta ini, kendati sebagian kepercayaan, prilaku dan ritual terkadang didapati percampuran dengan kekhurafatan. Atas demikian disimpulkan bahwa agama, ada yang benar dan yang batil. Agama yang benar memuat keyakinan-keyakinan yang sesuai dengan realitas, dan ajaran-ajaran yang didasari atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kebenarannya.”(5)

Keyakinan Harus Dibuktikan

Maka keyakinan seseorang harus dibuktikan. Di sinilah akal yang adalah anugerah besar dari Allah bagi manusia, memainkan peranannya. Banyak ayat Alquran yang menyuruh manusia supaya berfikir tentang dirinya dan alam keberadaan, sebagai contoh firman Allah:

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS: adz-Dzariyat 20-21)(6)

Ma’rifat atau mengenal Allah di bagian ini, dapat dicapai melalui perenungan terhadap alam semesta ini, bahwa di balik keberadaan dan keteraturannya terdapat Sumber yang mengadakan dan mengaturnya. Syekh Makarim Syirazi menyebutkan cara pencapaian ma’rifat ini sebagai jalan eksternal -dengan akal.(7)

Keyakinan ini pun tak berhenti di wilayah akal saja, tetapi harus diterima di dalam hati, yang disebut dengan iman qalbi (keimanan hati). Untuk itu, keimanan seseorang patut diuji. Satu misal sebagai pendekatan, ia percaya bahwa yang mati tak ubahnya benda mati. Namun ketika ia berada di samping mayat itu, kepercayaan ini seolah lenyap seketika oleh rasa takutnya.

Pengetahuan yang berekstensi (tashdîq) atau yang disertai keyakinan melalui pembuktian atas kebenarannya dan sampai di dalam hati, tingkat ma’rifat inilah yang disebut dengan keimanan.[*]

Catatan kaki:

1-Nahjul Balaghah, khotbah 1.

2-Ilale Gerayesy be Madigari.

3-هُوَ الَّذي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ حَتَّى إِذا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَ جَرَيْنَ بِهِمْ بِريحٍ طَيِّبَةٍ وَ فَرِحُوا بِها جاءَتْها ريحٌ عاصِفٌ وَ جاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكانٍ وَ ظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنا مِنْ هذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرينَ

4-Nafahat al-Wilayah, juz 1.

5-Durus fil ‘Aqidah, bab Tauhid.

6-وَ فِي الْأَرْضِ آياتٌ لِلْمُوقِنينَ وَ في‏ أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

7-Silsilatu ad-Durus fi al-‘Aqaid al-Islamiyah.

Baca: Bagaimana Al-Quran Menjelaskan Ciri-ciri Seorang Ibu? (1)

Post Tags
Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT