Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)

July 2017

Adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Tolok Ukur Baik dan Buruk”. Di sini, dua poin yang akan diketengahkan: proposisi aksiomatis dan dalil teori baik-buruk rasional. Para filosof membagi akal pada: teoritis dan praktis. Akal teoritis mengkonfirmasi pengetahuan yang tidak berurusan dengan perbuatan. Sedangkan yang berurusan

??

Sebagian orang mungkin bertanya bahwa Allah Swt tidak terbatasi oleh tempat seperti yang disepakati oleh ulama mazhab Ahlulbayt as. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita memahami adanya Mikraj Rasulullah Saw ke langit kemudian ke Sidartul Muntaha lalu menembus Hujub Nur (tabir-tabir cahaya) dan bermunajat dengan Allah?

Perlu dipahami sebenarnya Mikraj itu ke langit lalu ke Sidratul Muntaha kemudian ke surga Ma’wa dan tidak Mikraj ke Allah Swt sehingga sebagian beranggapan Allah berada di satu tempat seperti pertanyaan di atas. Sehingga ayat Alquran di surah Isra’ dan surah An-Najm mengatakan bahwa tujuan utama dari Isra’ dan Mikraj adalah untuk memperlihatkan / menunjukkan  tanda-tanda kebesaran Allah Swt kepada Nabi Saw.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Surga  memiliki banyak kenikmatan yang disiapkan untuk para penghuninya, mulai dari makanan, minuman, bidadari, pelayanan, tempat tinggal, ketenangan dan puncaknya nikmat maknawi berupa ridho Allah. Yang semua itu sesuai riwayat tidak pernah dilihat sebelumnya, tidak pernah didengar / dibicarakan sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di benak dan pikiran siapapun.

Di antara nikmat dan pelayanan yang tiada tara itu adalah para penduduk surga akan dilayani oleh Wildan Mukhaladun. Siapa sebenarnya para anak muda “Wildan” yang dikekalkan sebagaimana disebutkan di dalam Alquran itu? Apakah mereka dari golongan manusia atau dari golongan Malaikat?

  Dikisahkan, ada seorang penjahat yang telah membunuh orang sedang dalam pelarian. Kondisinya terlunta-lunta dengan pakaian yang compang-camping, penuh debu, kelelahan, dan mukanya kusut. Ia sampai di sebuah perkampungan. Sudah beberapa hari ia tidak makan sesuatu pun. Perutnya melilit kelaparan. Ia berhenti di depan sebuah toko. Ia

Suatu hari dua orang sahabat sedang berjalan-jalan di padang sahara. Setelah beberapa lama berjalan, terjadi perselisihan dan keributan. Salah seorang menampar keras wajah sahabatnya. Setelah kejadian itu, sahabat yang mendapat tamparan keras tersebut menulis di atas pasir, “Hari ini sahabat baikku telah menamparku”. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan

Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang Tuhanku إلهِي أَسْكَنْتَنا داراً حَفَرَتْ لَنا حُفَرَ مَكْرِها . وَعَلَّقَتْنا بِأَيْدِي الْمَنايا فِي حَبائِلِ غَدْرِها Engkau tempatkan kami dalam kampung yang telah menggali kuburan tipuannya untuk kami telah mengikat tangan-tangan nasib dalam belenggu kicuhannya فَإلَيْكَ نَلْتَجِئُ مِنْ مَكآئِدِ خُدَعِها، وَبِكَ نَعْتَصِمُ مِنَ الاغْتِرارِ بِزَخارِفِ

Dua perkara yang ingin penulis ketengahkan di ruang terbatas ini, yaitu masalah Palestina dan janji Allah. Saya melihat relasi antara keduanya di dalam masalah-masalah mendasar seperti keagamaan dan kemanusiaan. Nyatanya: Pertama, Palestina yakni al-Quds atau Baitul Maqdis di dalam agama Islam adalah kiblat pertama muslimin, tanah

بسم الله الرحمن الرحيم Dengan Asma Allah yang Mahakasih dan Mahasayang أَللَّهُمَّ يا مَلاَذَ اللائِذِينَ، وَيا مَعاذَ الْعآئِذِينَ، وَيا مُنْجِيَ الْهالِكِينَ، وَيا عاصِمَ الْبآئِسِينَ، وَيا راحِمَ الْمَساكِينِ، وَيا مُجِيبَ الْمُضْطَرِّينَ، وَيا كَنْزَ الْمُفْتَقِرِينَ وَيا جابِـرَ الْمُنْكَسِرِينَ، وَيا مَأْوَى الْمُنْقَطِعِينَ، وَيا ناصِرَ الْمُسْتَضْعَفِينَ،  وَيا مُجِيرَ الْخآئِفِينَ، وَيا مُغِيثَ الْمَكْرُوبِينَ وَيا حِصْنَ