Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Manusia Diciptakan untuk Melewati Ujian Derita dan Musibah

Surat al-Balad dan al-Humazah sama-sama turun di Mekah. Seperti umumnya surat-surat yang turun di Mekah, kedua surat ini banyak berbicara tentang keyakinan, Hari Kebangkitan (ma’ad), serta nilai-nilai moral mukmin dan muslim. Pelajaran-pelajaran ini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian seorang muslim.

Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah). Dan engkau (Muhammad), bertempat tinggal di negeri (Mekah) ini. Dan demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (QS. al-Balad: 1-4)

Surat ini diawali dengan sumpah; lazimnya sebuah berita penting dan menentukan. Tuhan ingin menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk mengalami derita dan musibah. Objek sumpah kali ini adalah kota Mekah yang merupakan kota suci, area yang aman dan rumah-Nya, Kabah. Ia adalah kota bersejarah, kawasan ahli tauhid. Tempat berkiprah Nabi Allah, Ibrahim dan putranya, dalam menegakkan peradaban tauhid. Mekkah pun kemudian memiliki keberkahan lain yang berasal dari Rasulullah Saw; yaitu dijadikan tempat tinggal beliau.

Kemudian Allah Swt bersumpah dengan bapak dan anaknya. Allah Swt ingin mengingatkan kepada manusia tentang fenomena alamiah yang sangat luar biasa ini. Apakah manusia tidak pernah memikirkan bagaimana dari sulbi Adam keluar lagi generasi seperti ayahnya, yaitu generasi manusia?

Baca: Ketika Manusia Dihadapkan pada Dua Macam Ujian

Artinya, manusia diciptakan bukan untuk bermalas-malasan. Sebab dia akan menjalani kehidupan yang berat, sulit, dan menyesakkan dada.

Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya? (QS. al-Balad: 5-7)

Setelah dijelaskan bahwa kesulitan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, digambarkan pula sosok manusia-manusia yang sama sekali tidak memahami kehidupan dan cara hidup yang sebenarnya. Mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab dan tak ada sesuatu pun yang akan mengatur dan mengendalikannya. Mereka membanggakan diri bahwa mereka telah mengeluarkan harta yang banyak. Manusia-manusia seperti itu mengira bahwa tak ada satu pun yang menyaksikan diri mereka. Padahal Tuhan selalu menyaksikan dirinya; tak satu pun perbuatan yang luput dari pantauan-Nya.

Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, lidah, dan sepasang bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)? Tetapi dia menempuh jalan yang mendaki dan sukar? (QS. al-Balad: 8-11)

Allah Swt mengingatkan bahwa manusia dapat terjerumus dalam kepalsuan. Setiap orang yang terperangkap dalam ilusi (khayalan) akan mengaku-ngaku memiliki kepandaian dan keahlian. Apakah manusia tidak mau menyadari bahwa Allah Swt-lah yang memberikan segala sarana yang dapat menolongnya dalam mengarungi hidup; yaitu sepasang mata, lidah, dan sepasang bibir. Dan yang lebih penting lagi, Tuhan juga menunjukkan kepadanya dua jalan kebaikan dan keburukan. Dengan kata lain, dalam diri manusia sudah tertanam fitrah, yaitu media untuk mendeteksi kebenaran dan keburukan. Dengan fitrah itu pula dia mampu membedakan hal-hal yang berharga dari hal-hal yang tidak berharga. Pemberian Tuhan itu adalah bekal hidup yang sangat berarti bagi manusia. Yakni agar manusia mampu menempuh jalan yang mendaki lagi sukar itu.

Dan tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki dan sukar? (Yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya). Atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan. (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Dan orang miskin yang sangat papa. (QS. al-Balad: 12-16)

Manusia memiliki tanggung jawab yang berat. Di depan manusia terbentang jalan yang sulit. Karena itu, Tuhan melengkapi manusia dengan panca indra dan juga kekuatan untuk menentukan kebenaran. Manusia muslim seperti yang diidentifikasikan ayat ini adalah manusia yang memiliki rasa simpati yang besar dan mau memahami penderitaan orang lain. Kehidupan bukanlah tempat pelesiran yang menyenangkan. Dunia bukan tempat yang pantas untuk dibanggakan. Kehidupan adalah tempat untuk saling berbagi dan memberi. Orang Islam wajib menolong orang-orang yang menderita karena perbudakan; mereka tidak boleh membiarkan atau menelantarkan anak-anak yatim.

Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS. al-Balad: 17)

Manusia-manusia yang ingin menempuh jalan yang sulit lagi mendaki dan sampai ke tujuan dengan selamat, harus memiliki sifat-sifat lain disebutkan dalam ayat di atas. Yaitu keteguhan iman, serta saling menasihati untuk bersabar dan berkasih-sayang. Alquran ingin menyadarkan tanggung jawab seorang muslim sebagai aktivis kemanusiaan. Artinya, setiap muslim harus berusaha memotivasi orang lain agar memiliki kekuatan spiritual dan energi hidup. Seorang muslim harus menjadi penyebar kebaikan kepada orang lain.

Baca: Makna Alhamdulillah Lebih dari Sekedar Pujian bagi-Nya

Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat. (QS. al-Balad: 18-20)

Al-Balad menutup suratnya dengan menjelaskan nasib orang-orang yang beriman, suka saling menasihati dalam kesabaran, membebaskan orang-orang yang tertindas, menentang perbudakan, serta menyelamatkan orang-orang miskin dan anak-anak yatim. Surat ini juga berbicara tentang nasib orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Swt. Mereka, orang-orang kafir itu, akan mengalami kehidupan yang buruk dan dicampakkan ke dalam neraka yang ditutup rapat. Mereka akan disiksa dalam ruangan tertutup sehingga mustahil untuk keluar darinya, untuk selama lamanya.

*Disarikan dari buku Selalu Bersama Alquran – Ghulam Ali Haddad

No comments

LEAVE A COMMENT