Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Membangun Diri dengan Muhasabah (6/Selesai)

  1. Muhasabah

Muhasabah ialah apa yang telah dijelaskan sebelumnya berupa interospeksi dan evaluasi atas amal perbuatan, dan ini dilakukan pada saat menjelang malam dan diujung malam, sebagaimana musyarathah dilakukan pada pagi hari dan awal malam. (Baca sebelumnya: Muhasabah 5)

Setelah manusia bermuhasabah, jika dia merasa telah menjalankan taklif dan kewajibannya maka hendaknya dia bersyukur kepada Allah SWT atas keberhasilannya sekaligus memohon kepada Allah SWT agar diberi taufik untuk mendapat prestasi lebih besar lagi. Sedangkan jika dia melihat ada aib dan kekurangan pada amal perbuatannya maka hendaknya dia bertaubat dan menebusnya.

  1. Muatabah dan Muaqabah

Ketika seseorang merasa ada kekurangan pada dirinya dalam menjalan kewajiban, atau telah melanggar persyaratan yang sudah ditetapkan dalam musyaratah maka hendaknya mencela kekurangan ini dan menjatuhkan sanksi hukuman pada diri.

Laits bin Abi Salm meriwayatkan[1] kisah dari seseorang dari kalangan Ansar bahwa suatu hari Rasulullah bernaung di bawah pohon pada saat cuaca sangat panas, tiba-tiba beliau melihat dari kejauhan seorang pria menanggalkan bajunya lalu merebah dan berguling-guling di atas hamparan pasir memanaskan punggung, perut dan dahinya. Orang itu berucap, “Wahai diri, rasakanlah ini, karena betapa azab Allah kelak lebih besar daripada apa yang aku perbuat terhadapmu.” (Baca: Tuhan, Alam dan Gempa)

Pria itu kemudian kembali mengenakan bajunya, dan Rasulullah saw melambai tangan dan memanggilnya. Setelah pria itu mendekat, beliaupun bersabda;

يا عبدالله لقد رأيتك صنعت شيئاً ما رأيت أحداً من الناس صنعه، فما حملك على ما صنعت؟

“Wahai hamba Allah, tadi aku melihatmu berbuat sesuatu yang aku belum pernah melihat orang lain melakukannya. Apa yang membuatmu berbuat demikian?”

Pria itu menjawab, “Aku berbuat demikian karena takut kepada Allah, dan aku berkata kepada diriku, ‘Wahai diri, rasakanlah ini, karena betapa azab Allah kelak lebih besar daripada apa yang aku perbuat terhadapmu.’

Nabi saw bersabda;

لقد خفت ربّك حقّ مخافته، وإنّ ربّك ليباهي بك أهل السماء.

“Kamu telah takut kepada Tuhanmu dengan sebenar-benar rasa takut kepadaNya, dan sesungguhnya Tuhanmu berbangga denganmu kepada penduduk langit.”

Beliau kemudian bersabda kepada para sahabat;

يا معشر من حضر ادنوا من صاحبكم حتّى يدعو لكم.

“Wahai orang-orang yang hadir di sini, mendekatlah kepada sahabat kalian ini agar dia mendoakan kebaikan untuk kalian.”

Pria itu lantas mendoakan mereka dengan berucap; “Ya Allah, himpunlah perkara kami di atas jalan yang lurus, jadikanlah ketakwaan sebagai bekal kami dan surga sebagai tempat persemayaman kami.” (Baca: Menziarahinya Kunci Menuju Surga)

  1. Mujahadah

Setelah seseorang menyadari kekurangannya maka dia hendak bermujahadah atau bersusah payah berusaha menutupi kekurangannya dan mengejar ketertinggalannya dengan memperbanyak ibadah dan amal baik. Allah SWT berfirman;

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”[2]

Imam Jakfar al-Shadiq as berkata;

طوبى لعبد جاهد لله نفسه وهواه.

“Beruntunglah hamba yang berjihad melawan diri dan hawa nafsunya demi (keridhaan) Allah.”[3]

Sebagai penutup, silakan menyimak nasihat mengenai musyaratah, muraqabah dan muhasabah dari sosok agung Imam Khomaini ra;

“Anda dapat memilih suatu hari di mana pada permulaanya Anda menetapkan persyaratan (musyaratah) pada dirimu untuk tidak berbuat sesuatu yang menyalahi perintah Allah. Dengan demikian Anda membuat suatu keputusan dan tekad. Sebab, jelas bahwa meninggalkan apa yang menyalahi perintah Allah untuk satu hari merupakan pekerjaan yang sangat mudah sehingga mudah untuk bertekad atasnya dan membuat persyaratan dengan diri demi ini.”

“Anda harus mencobanya untuk melihat betapa hal ini sangat mudah. Kemudian Anda mengawasi (muraqabah) diri Anda pada hari itu agar tidak melanggar persyaratan.”

“Selanjut, di penghujung hari itu Anda mengevaluasi diri Anda atas apa yang dihasilkan pada hari itu. Jika Anda telah memenuhi pernyataan dengan baik maka bersyukurlah kepada Allah atas taufik ini. Esok harinya akan menjadi lebih mudah bagi Anda daripada hari itu. Maka upayakanlah hal ini dalam suatu kurun waktu dengan harapan hal ini akan berubah menjadi suatu bakat/bawaan (malakah) dalam diri Anda sehingga pekerjaan ini akan menjadi sangat mudah bagi Anda. Ketika sudah demikian maka Anda akan merasakan betapa nikmatnya ketaatan kepada Allah dan keberhentian bermaksiat kepadaNya.”

“Jika pada pertengahan hari ternyata terjadi pengabaian terhadap persyaratan maka memohonlah ampunan kepada Allah, dan besoknya bertekadlah untuk konsisten dengan penuh keberanian kepada persyaratan.”[4]

(Selesai)

[1] Al-Mahajjah, jilid 7, hal. 308 – 309.

[2] QS. Al-Ankabut [29]: 69.

[3] Al-Mahajjah, jilid 8, hal. 170.

[4] Al-Arba’un Haditsan, hal. 26 – 27, berkenaan dengan hadis pertama.

 

Baca: Urgensi Wahyu dalam Kehidupan Manusia (2)

 

No comments

LEAVE A COMMENT