Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Munafik, Seburuk-buruknya Perilaku Manusia

Munafik merupakan salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah Swt. Adalah kodrat manusia untuk menerima kebahagiaan dan kebebasan, dan untuk meningkatkan diri ke tingkat martabat yang tertinggi. Namun, ketika manusia tercemar dengan dusta, pelanggaran janji, dan pengkhianatan amanat, kemunafikan mendapatkan arena luas dan menjadi siap sedia menembus masuk ke kodrat yang tercemar seperti itu. Kemunafikan terus maju dalam keadaan ini sampai akhirnya menjadi penyakit yang parah.

Nabi Muhammad Saw mengungkapkan tentang tanda-tanda orang munafik: “Ada tiga tanda orang munafik: bila berbicara, ia dusta; bila berjanji, ia ingkar; bila diberi amanat, ia khianat.” (Bihar al-Anwar, 15/30)

Kemunafikan bukan saja mencegah orang mencapai kebenaran atau bahkan berusaha menemukannya, tetapi juga menjadi suatu tembok tak terbobolkan yang menghadang di tengah jalan untuk mendapatkan akhlak mulia. Tentu saja semua itu menghalangi jalan perilaku yang pantas dan keutuhan psikologis, dan menentang kehidupan bahagia yang berlandaskan kesempurnaan rohani.

Baca: Kemunafikan Bertebaran di Sekitar Kita

Kemunafikan adalah wabah berbahaya yang mengancam harkat dan martabat manusia, menjuruskan ke rasa tak bertanggung jawab dan perangai-perangai rendah, dan menggantikan rasa saling percaya dengan saling curiga, pesimisme, dan kecemasan.

Orang yang mencapai titik berbahaya tersebut dalam perilaku buruknya, meyakinkan dirinya bahwa ia menghendaki yang terbaik bagi semua orang. Bilamana ia berurusan dengan dua pihak yang tak serasi, ia memperkenalkan diri sebagai sahabat baik dan penasihat jujur, kemudian ia berpaling dan menjatuhkan yang satunya, mengecamnya dengan sangat, padahal ia sama sekali tidak merasakan hubungan rohani atau moral dengan siapa pun di antara mereka. Memuji secara palsu, menerima paham-paham asing secara fanatik, dan tak mau membela kebenaran pada saat diperlukan, semuanya itu merupakan ciri orang munafik.

Salah satu unsur penderitaan sosial ialah jalan yang menyebarkan kemunafikan dan tiadanya kejujuran dan keikhlasan di kalangan berbagai lapisan masyarakat. Apabila kemunafikan memasuki struktur suatu masyarakat dan menguasai hati para anggotanya, maka tipu daya dan kehinaanlah yang tampil di kalangan mereka; masyarakat semacam itu akan menghadapi kejatuhan yang tak terelakkan.

Ketika Islam mulai maju dengan cepat, kalangan munafik, yang merasa lebih terancam ketimbang setiap kalangan oposisi lainnya, berusaha menghancurkan tiang-tiang pemerintahan Islam. Mereka telah bersumpah setia kepada Rasulullah Saw, tapi kemudian menolak memenuhi kewajibannya ketika tiba saat untuk melaksanakannya. Mereka juga mengecam kaum mukmin.

Minoritas perusak dan penghancur ini tidak dapat menerima keimanan dan pengabdian umat kepada Rasulullah Saw. Pemimpin kaum munafik ini adalah Abu Amir, ia kepala kaum Ahlulkitab di Madinah, di mana ia beroleh reputasi di kalangan masyarakat karena menjadi orang religius. Semula, ia telah meramalkan kedatangan Nabi sebelum Nabi diutus sampai pada tahap-tahap pertama kenabiannya. Belakangan, ia tak sanggup berlaku sabar atas hilangnya reputasinya karena tersebarnya Islam.

Ia pun pindah ke Mekah dan bergabung dengan kaum musyrik dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Abu Amir selanjutnya melarikan diri ke pihak Romawi di mana ia bersekongkol untuk meruntuhkan Islam. Dialah yang menokohi pembangunan Masjid Dhirar (Masjid Perpecahan) di Madinah. Kala itu, tak seorang pun diizinkan mendirikan masjid tanpa persetujuan Rasulullah Saw. Ketika beliau kembali dari Perang Tabuk, jamaah masjid itu mengundang beliau untuk meresmikan pembukaannya. Namun, Allah Yang Mahakuasa telah mewahyukan kepada Nabi tentang niat jahat mereka. Nabi pun menolak undangan itu dan memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan masjid itu.

Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS. at-Taubah: 18)

Persekongkolan khianat mereka pun digagalkan, dan tempat pertama para munafik tersebut dibakar. Alquran sangat mengecam kelompok ini dan mengutuknya.

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’, padahal mereka sesungguhnya bukan orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”  (QS. al-Baqarah: 8-12)

Munafik adalah suatu penyakit rohani. Inilah mungkin yang ditunjukkan Imam Ali a.s. ketika ia berkata: “Berhati-hatilah terhadap orang munafik, karena mereka itu orang sesat lagi menyesatkan dan pemimpin ke jalan yang salah.” (Ghurar al-Hikam, hal 146)

Imam Ali a.s. juga berkata: “Seorang munafik, kata-katanya indah namun batinnya sakit.” (Ghurar al-Hikam, h. 60)

Orang munafik tidak mempunyai kelompok yang dapat diandalkannya, dan oleh karena itu ia terus-terusan hidup dalam kebingungan. Rasulullah Saw menggambarkannya dengan mengatakan: “Seorang munafik ibarat domba yang bingung di antara dua kawanan.” (Nahj al-Fashahah, hal. 562)

Imam Muhammad al-Baqir a.s. mengatakan: “Jahatlah seorang ahli ibadat apabila ia mempunyai dua muka dan dua lidah: memuji saudaranya di hadapannya dan memfitnahnya di belakangnya. Apabila ia memberi kepada saudaranya, ia iri kepadanya, dan apabila saudaranya berada dalam cobaan, ia tidak [menolongnya].” (Bihar al-Anwar, 15/172)

Imam Ali a.s. menunjukkan suatu ciri lain dari orang munafik ketika ia mengatakan bahwa mereka selalu membela diri sekaligus mengecam orang lain: “Orang munafik adalah pemuji dirinya sendiri dan pemfitnah orang lain.” (Ghurar al-Hikam, hal. 88)

Imam Jakfar Shadiq a.s. menerangkan nasihat Luqman kepada putranya: “Seorang munafik mempunyai tiga tanda: lidahnya berlawanan dengan hatinya, hatinya berlawanan dengan perilakunya, dan penampilannya berlawanan dengan batinnya.” (Bihar al-Anwar, 15/30)

Baca: Tafsir: Kerusakan yang Ditimbulkan Orang Munafik

Pikiran manusia mengungkapkan diri yang sebenarnya. Orang yang berusaha menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya di balik kemunafikan dan pujian palsu tak akan pernah berhasil, karena kenyataan dan kebenaran akhirnya akan tersingkap. Ketika berbicara tentang kemunafikan, kami memaksudkannya dalam pengertian yang lebih luas daripada sekadar kemunafikan dalam akidah, perilaku, moral, atau perkataan, karena Islam telah menyeru semua penganutnya untuk bersatu secara total dan menyeluruh, demi membimbing mereka kepada kehidupan tulus yang bebas dari kemunafikan, perpecahan, dan pengkhianatan.

*Disarikan dari buku Menumpas Penyakit Hati – Sayid Mujtaba Musawi Lari

No comments

LEAVE A COMMENT