Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Rasulullah Saw adalah Akal Semua Manusia

Eksistensi Rasulullah Saw adalah akal munfashil seluruh manusia. Allah Swt mengatakan, Dialah Yang telah mengutus seorang rasul ke tengah-tengah masyarakat yang ummi (QS.al-Jumu’ah: 2) dan Juga ke tengah-tengah masyarakat mukmin (QS. Ali Imran: 164). 

Allah telah menganugerahkan kepada orang mukmin dengan mengutus dari kalangan mereka seorang rasul. Bahkan juga untuk malaikat karena para malaikat adalah murid-murid manusia sempurna. Manusia sempurna adalah tajalli Allah Swt. Manusia yang akil (rasional) selalu berusaha menundukkan quwwah tahriki (fakultas sensasi) dengan quwwah idrak (fakultas perseptif) dan quwwah idrak yang lebih rendahnya akan menyerah pada quwwah ‘aliyah-nya (fakultas yang lebih tinggi).

Imam Ali a.s. mengatakan: “Jika terjadi bencana, jadikan hartamu sebagai pembela jiwamu dan jika terjadi sesuatu yang membahayakan agamamu maka serahkan jiwamu demi agamamu.”

Baca: Menangisi Imam Husain a.s. adalah Sunah Rasulullah Saw

Seorang manusia semestinya lebih mendahulukan akal munfashil-nya yaitu Rasulullah Saw sebelum akal muttashil menyatu dengannya. Seperti halnya ketika terjadi hal-hal yang membahayakan sehingga quwwah tabriki (fakultas stimulasi) dan idraki (persepsi)nya menjadi korban fakultas kognitif (intelektual). Dan, semua manusia seharusnya mau mengorbankan dirinya demi Rasulullah Saw, walaupun di tengah-tengah mereka masih hidup orang-orang bijak dan pintar, karena manusia-manusia bijak itu bagi Rasulullah Saw tidak lebih dari anggota tubuhnya. Nabi Saw adalah akal universal manusia. Manusia mana pun tidak memiliki hak untuk memilih fakultas lain selain akalnya.

Ibnu Sina mengatakan tentang Imam Ali a.s. : “Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah pusat hikmah, falak hakikat, khazanah akal. Ia di tengah-tengah manusia seperti ma’qul di tengah-tengah mahsus. Ali di tengah-tengah sahabat-sahabat yang lain seperti akal di tengah-tengah mahsusat.”

Ibaratnya ketika manusia menemui kekeliruan panca indra maka akallah yang harus menjadi hakimnya, demikian juga sahabat-sahabat Rasulullah Saw harus menyerahkan segala keputusan kepada Rasulullah Saw. Jadi suara semua fakultas manusia adalah, “Kalau tidak ada akal maka celakalah kami” atau dengan bahasa hidupnya, “Kalau tidak ada Alquran dan Rasul, maka celakalah kami.”

Alquran memberi isyarat tentang keharusan mempertaruhkan jiwa demi membela Rasulullah Saw, Tidak pantas bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasul. (QS. at-Taubah: 20)

Seorang manusia tidak boleh mementingkan dirinya sehingga menjauh dari Rasulullah Saw karena Rasulullah adalah nyawanya dan siapa pun harus menyadari bahwa jiwa Rasul Saw lebih penting dari jiwanya. Ia tidak boleh membiarkan Rasulullah Saw dalam situasi bahaya. Nabi itu lebih utama dari diri kaum Mukmin. Annabiyyu awla bilmu’minina min anfusihim. Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri. (QS.al-Ahzab: 6)

Ketika seseorang mempertaruhkan nyawanya untuk Rasul Saw, ia tidak menyerahkan untuk sesuatu yang bukan bagian dari dirinya (outward). Sejatinya, ia sedang menyerahkan pada yang akan menyempurnakan dirinya (inward).

Lanjutan dari surah at-Taubah ayat 20 itu berbunyi, Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebaikan. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Artinya, manusia yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah Saw akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga karena kemahakerdilannya dileburkan dengan kemahasempurnaan-Nya. Posisi yang mulia itu harus dicintai oleh yang memiliki posisi mutawassith atau nazil (lebih rendah). Karena itulah ayat mengatakan, laqad ja’akum rasulun min anfusikum, (Sungguh telah datang Rasul dari diri kalian sendiri). Jadi, Rasul itu sesungguhnya bagian dari diri kalian.

Baca: Sabda Rasulullah Saw tentang Keutamaan Para Imam Ahlulbait

Walhasil, kalau sang manusia mengorbankan dirinya untuk Rasul Saw, maka ia akan bertemu dengannya dan menjadi manusia sempurna. Ia juga bisa mencapai syuhud (menyaksikan) Rasulullah Saw dan risalahnya. Syuhud adalah kedudukan tertinggi bagi manusia.

*Disadur dari buku Nabi Saw dalam Alquran – Ayatullah Jawadi Amuli

 

No comments

LEAVE A COMMENT