Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Stop KDRT dengan Manajemen Stres

Ketika kendarannya dihentikan pihak berwajib, seorang ibu menyerang bahkan mencakar petugas kepolisian. Peristiwa ini segera menjadi viral di media sosial. Belakangan, diberitakan bahwa ibu itu  mengeluh tentang banyaknya cicilan yang harus dibayar setiap bulan. Sang ibu merasa tidak berdaya menghadapi masalah kehidupan sehingga menjadi agresif.

Setiap orang akan memberi reaksi yang berbeda atas masalah yang dihadapinya. Namun demikian, seberat apa pun beban yang dipikul bukanlah alasan untuk menyerang dan melakukan tindakan kekerasan terhadap siapa saja.

Kondisi serupa sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keluarga. Tak jarang pasutri mengalami stres-bisa berasal dari dalam atau luar rumah -yang bisa memicu terjadinya KDRT.

Salari Far menyatakan bahwa tekanan hidup seperti masalah pekerjaan, pendapatan rendah, pengangguran dapat menyebabkan stres bagi suami. Sedangkan beban seperti mengatur rumah tangga, merawat anak, gangguan fisik dan psikologis menimbulkan stres pada istri. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut akan berimbas buruk terhadap interaksi dalam keluarga.

Manajemen stres akan memengaruhi kesejahteraan psikologis pasutri, meningkatkan hubungan emosional dan kerjasama di antara keduanya. Manajemen stres meliputi: mengetahui gejala dan penyebab stres serta memilih metode untuk menghadapinya. Dari sekian banyak pendekatan, manajemen mana yang mau kita pilih?  Sebagai pedoman hidup, Islam pun memiliki pendekatan yang lengkap terhadap stres. Agama yang sempurna ini bertujuan membimbing individu dan masyarakat mencapai keberhasilan dan kebahagiaannya. Untuk mencapai kesejahteraan psikologis masyarakat dan keluarga, kita perlu merujuk secara khusus kepada panduan Islam dan Alquran.

Deteksi dini gejala stres

Ketika tidak melewati ambang batasnya, stres justru berpengaruh positif. Stres positif akan mendorong pelakunya lebih proaktif dan memacu alam pikiran untuk menghadapi masalah yang menjadi sumber stres. Saat stres, otak dan sistem parasimpatik menjadi aktif sehingga mengeluarkan adrenalin dan hormon epineprin. Hormon epinefrin juga diproduksi dalam jumlah banyak pada saat orang sedang marah.

Hormon epinefrin memengaruhi otak untuk membuat indra perasa merasa kebal terhadap sakit. Hormon ini meningkatkan kemampuan berpikir dan ingatan. Selain itu, hormon epinefrin membuat paru-paru menyerap oksigen lebih banyak. Epinefrin mengubah glukogen menjadi glukosa bersama dengan oksigen sebagai sumber energi. Hormon ini meningkatkan kerja jantung dan tekanan darah yang dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Sepanjang tidak berlebihan, hormon tersebut berakibat positif, karena seseorang menjadi lebih terpacu untuk bekerja atau membuatnya lebih fokus.

Namun demikian, ketika hormon tersebut diproduksi berlebihan akibat stres yang berkepanjangan, ia akan mengakibatkan kelelahan bahkan menimbulkan depresi. Pada kondisi ini, darah terpompa lebih cepat dan mengganggu fungsi metabolisme serta proses oksidasi di dalam tubuh. Dengan demikian, penyakit fisik mudah berdatangan.

Gejala stres antara lain: sulit tidur, cepat lelah, mudah terusik, kepala pusing, dan sebagainya. Penderita stres umumnya juga kehilangan nafsu makan. Sebagaimana stres mempengaruhi  fisik, ia juga berdampak terhadap emosi, kognisi dan perilaku manusia.  Stres akan membuat orang merasa tidak berdaya dan memendam kemarahan hingga kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Dalam keadaan stres mungkin saja terjadi perubahan perilaku pada seseorang misalnya menghisap rokok.

Kenali faktor penyebab stres

Berbanding terbalik dengan apa yang kita pikirkan, tekanan psikologis tidak hanya disebabkan oleh keadaan yang tak diharapkan.  Tekanan psikologis juga ditimbulkan oleh kondisi menyenangkan bagi seseorang yang membutuhkan proses penyesuaian baru. Penelitian terbaru tentang tekanan psikologis menyatakan bahwa manusia membutuhkan stres hingga tahap tertentu. Kehidupan yang monoton dan serba terkontrol akan menimbulkan kelelahan dan kebosanan.

Kehidupan yang teratur dan dapat diprediksi akan memberikan ketenangan dan ketentraman bagi setiap orang. Ketika terjadi perubahan, ia dituntut untuk memperbaharui harapan dan pilihan hidupnya. Tubuh akan bereaksi terhadap perubahan tersebut dalam bentuk kesiapan, dan hal ini membutuhkan energi lebih besar.

Semakin banyak perubahan akan menyebabkan semakin banyaknya reaksi tubuh. Tentu energi yang dibutuhkan harus lebih besar pula dan menimbulkan kelelahan. Pada akhirnya, seseorang yang mengalami banyak perubahan dalam waktu yang singkat, akan berisiko mengalami sakit.

Banyak hal yang dapat menimbulkan stres, seperti: polusi suara dan udara, jadwal yang padat dalam waktu yang singkat, tuntutan kerja, kurang terpenuhinya kebutuhan ekonomi, hambatan komunikasi, dan afeksi serta berada di lingkungan asing. Bagi sebagian orang, stres yang berasal dari lingkungan keluarga sama atau lebih berat dibanding stres pada dunia kerja. Sebuah penelitian melaporkan 76% dari penderita serangan jantung di ruang ICU sebelumnya menghadapi keguncangan di keluarga. Krisis keluarga termasuk penyebab stress, yang meliputi: kematian pasangan, perceraian, pertengkaran pasutri, perkawinan, masalah seksual, dan seterusnya.

Kekhawatiran dan kecemasan terhadap penyakit dan berbagai hal memberi pengaruh negatif terhadap kondisi psikologis seseorang. Dalam perspektif agama kecemasan tersebut disebabkan oleh lemahnya iman, lupa diri, keterikatan terhadap fasilitas individu dan sosial. Lalai untuk mengikuti kepemimpinan dan wilayah Imam Zaman ajalallahu farajahu syarif, kecintaan terhadap dunia, panjang angan-angan, takut akan kematian juga termasuk penyebab timbulnya stress.

Bagaimana menghadapi stres?

Pemahamann tentang gejala dan penyebab stres merupakan pengantar yang membantu seseorang untuk mengetahui cara menghadapi stress. Dalam perspektif agama, iman kepada Allah dan melaksanakan penghambaan kepada-Nya merupakan syarat penting atas keberhasilan menghadapi stres. Iman dan penghambaan dapat digolongkan sebagai metode dan upaya seorang mukmin dalam menghadapi stres. Kesadaran bahwa segala peristiwa di dunia ini merupakan manifestasi keberadan Ilahi menghapus kecemasan terhadap hal yang dikhawatirkan banyak orang.

Pemanfaatan keyakinan agama memiliki pengaruh besar dalam upaya meredam kecemasan. Sebagian besar orang percaya bahwa dengan merujuk kepada keyakinan agama mereka mampu menghadapi kesulitan hidup secara lebih baik. Islam memberi petunjuk atas seluruh aspek kehidupan yang diperkenalkan melalui Rasulullah salallahu alaihi wa alih dan Alquran. Ajaran agama mengajarkan manusia sebagai manifestasi Ilahi, mampu menapakkan kakinya pada jalan kesempurnaan. Dengan demikian, hendaknya kita selalu meminimalkan kekurangan dan kelemahan diri sendiri. Pada akhirnya kemampuan menghadapi kesulitan hidup oleh pasutri menghindarkan terjadinya perselisihan dalam keluarga yang sering memicu KDRT. Setiap pasangan tidak lagi saling serang atau cakar sebagai reaksi atas beratnya beban hidup yang dijalani.

 

 

 

No comments

LEAVE A COMMENT