Situs Resmi Komisi Bimbingan dan Dakwah Syura Ahlulbait Indonesia (ABI)
 

Hari Kebangkitan Sebagai Manifestasi Keadilan Tuhan

Apakah catatan amal perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk itu akan ditutup di dunia ini sehingga akan dikubur selamanya tanpa ada perhitungan apa pun? Lantas apa yang menjadi keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang tak terbatas yang Tuhan janjikan kepada para hamba-Nya? Sementara Tuhan sendiri telah meletakkan keadilan dan kebijaksanaan-Nya termanifestasi melalui ciptaan-Nya.

Jika Tuhan menciptakan suatu kondisi yang mana orang-orang yang  mengerjakan perbuatan dosa dan yang melakukan penindasan bisa melanjutkan pilihan perbuatan buruknya sampai akhir kehidupan mereka dengan menggunakan cara apa pun untuk meraih  kekuasaan dan cita-cita mereka, jika kita menerima bahwa seluruh perbuatan mereka itu mungkin tidak akan ada perhitungannya, dan orang yang tertindas terus menderita akibat cambuk  ketidakadilan perampasan hak-hak mereka yang menimpanya sampai akhir hidup mereka, tidakkah ini pantas disebut sebagai penindasan dan ketidakadilan?

Baca: Dalil-dalil Rasional tentang Keberadaan Hari Kebangkitan

Memang benar bahwa Tuhan tidak secara langsung menetapkan kejahatan itu kepada sekelompok orang tertentu. Namun fakta bahwa sekelompok masyarakat tertentu yang bertindak sebagai pelaku kejahatan dan penindasan, kebebasan dan kekuasaannya membebaskan mereka dari seluruh hukuman, secara otomatis merupakan bentuk nyata dari ketidakadilan. Hubungan antara keadilan Tuhan dan kebutuhan akan penghitungan secara tepat tentang perbuatan-perbuatan manusia tidak bisa ditolak lagi, merupakan bukti nyata akan adanya Hari Kebangkitan.

Di samping itu, kejahatan dan dosa tertentu memiliki dampak sangat luas sehingga ia tidak cukup untuk hanya diadili di dunia ini dengan rentang waktu yang sangat terbatas. Kejahatan kadang sangat besar sampai-sampai hukuman yang diterapkan manusia tidak setimpal dengan besarnya kejahatan yang dilakukan olehnya. Bagi penjahat, dunia ini tak lebih dari bangkai, sehingga ia membunuh dan menyembelih semaunya, tangannya dipenuhi dengan lumuran darah dari ratusan atau ribuan orang yang ia masukkan ke dalam rumah pemotongan sebagaimana binatang. Ia sudah terperosok ke dalam lumpur kejahatan dan ketidakadilan sehingga ia tidak mampu untuk mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu atau berpikir lebih baik dan lebih jernih untuk menatap masa depan.

Terlepas dari semua kejahatan yang ia lakukan, sebenarnya jiwanya sama dengan jiwa orang lain (bergejolak). Namun hukuman yang diputuskan untuknya tidak sesuai dan jauh dari keadilan. Ia hanya dihukum sesuai dengan tuntutan salah satu korbannya dan sedangkan kejahatan-kejahatan yang lain tetap tidak mendapatkan hukuman.

Baca: Tafsir: Proses Penciptaan Menepis Keraguan atas Hari Kebangkitan

Maka yang terjadi kemudian adalah, banyak sekali kejahatan yang hukumannya tidak bisa diberikan di dunia, karena kejahatan itu terlalu besar. Apabila kita hendak menganalisis persoalan-persoalan ini secara lebih logis, kita mesti melihat jauh ke depan, melampui dunia ini. Di samping itu ada pertimbangan lain, yaitu bahwa di dunia ini tak ada otoritas yang memiliki kekuasaan yang cukup untuk mengembalikan seluruh hak yang telah dirampas kepada pemiliknya. Itu sama halnya dengan dunia ini yang tidak memiliki kapasitas untuk membalas kebaikan dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Ketika kita berusaha untuk menaksir nilai balasan usaha tanpa kenal lelah yang dilakukan oleh orang-orang yang baik dan tulus di dunia ini, yang menghadapi cobaan berat dan penentangan luar biasa. Kita akan sadar bahwa balasan yang tersedia sangat tidak memadai. Di dunia ini apakah ada balasan yang memadai yang pantas diberikan kepada orang yang memberikan manfaat kepada jutaan orang dengan pengetahuan dan pengalamannya? Atau orang yang mencurahkan hidupnya untuk melayani orang lain? Bagaimana dan di mana di dunia ini, orang yang menghambakan seluruh hidupnya untuk menyembah Tuhan dan membantu para kekasih-Nya dalam berbagai bentuk pelayanan kepada seluruh masyarakat, dan yang menghabiskan seluruh hidupnya demi meraih ridha-Nya bisa dibalas?

Baca: Pentingnya Iman kepada Ma’ad

Di dunia ini tidak ada kehidupan yang memungkinkannya untuk memetik buah ketaatan dan pengorbanannya. Pendeknya, waktu hidup di dunia ini bahkan tidak mengizinkan orang-orang saleh (taat) untuk menerima balasan amal perbuatan mereka. Allah Swt berfirman:

“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.(QS. al-Jatsiyah: 21-22)

*Disadur dari buku karya Sayid Mujtaba Musawi – Alam Baka dan Hari Kebangkitan


No comments

LEAVE A COMMENT